Indonesia Berlomba Bangun Data Center, Apa Untungnya?
Redaksi
08 October 2026 12:34

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indonesia tengah ikut dalam perlombaan membangun kapasitas data center di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Investasi bernilai miliaran dolar mengalir ke sektor data center di berbagai negara. Infrastruktur ini kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan data, tetapi menjadi fondasi penting bagi perkembangan ekonomi digital dan AI.
Data center menyediakan kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk memproses data dalam jumlah besar. Infrastruktur tersebut juga memungkinkan perusahaan dan pemerintah mengembangkan berbagai teknologi serta layanan digital dengan skala yang lebih besar.
Bagi Indonesia, kebutuhan terhadap data center semakin penting karena besarnya aktivitas ekonomi digital nasional. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati US$100 miliar pada 2025 dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Besarnya pasar digital tersebut menciptakan kebutuhan terhadap infrastruktur yang mampu menopang pertumbuhan aktivitas digital. Semakin banyak transaksi digital dan semakin berkembangnya teknologi AI, kebutuhan terhadap kapasitas komputasi juga ikut meningkat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melihat pengembangan ekonomi digital sebagai salah satu bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Indonesia ingin tumbuh lebih dari 8 persen dan salah satu pengungkitnya adalah digital economy. Dan kuncinya adalah tentunya AI, dan AI itu akan ada kalau infrastrukturnya data centernya baik," ujar Airlangga.
Dari Data Menjadi Nilai Ekonomi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pembangunan kapasitas komputasi menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi.
"Kita tidak ingin hanya menjadi pasar atau pengguna. Kita ingin memperoleh posisi strategis dalam rantai nilai industri AI global," kata Nezar.
Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan Indonesia di tengah perkembangan AI. Besarnya jumlah pengguna dan aktivitas digital belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai negara yang mampu menangkap nilai ekonomi terbesar dari perkembangan teknologi.
Aktivitas digital menghasilkan data dalam jumlah besar. Data tersebut berasal dari berbagai aktivitas, mulai dari transaksi perbankan, belanja online, layanan digital hingga kegiatan bisnis.
Namun, data tidak secara otomatis menghasilkan nilai ekonomi. Data perlu disimpan, diproses dan diakses menggunakan infrastruktur komputasi yang memadai.
Di sinilah data center memainkan peran penting. Infrastruktur tersebut menjadi tempat berlangsungnya berbagai aktivitas komputasi yang menopang cloud computing, fintech, e-commerce, AI, cybersecurity hingga layanan pemerintah berbasis digital.
Pemerintah mencatat terdapat minat investasi tambahan sekitar 1,3 gigawatt (GW) data center di Indonesia dengan nilai mencapai US$15 miliar hingga US$20 miliar.
Dengan angka tersebut, setiap tambahan kapasitas 100 megawatt (MW) secara sederhana merepresentasikan investasi sekitar US$1,2 miliar hingga US$1,5 miliar.
Besarnya nilai investasi menunjukkan bahwa pembangunan data center bukan hanya persoalan teknologi. Infrastruktur tersebut juga dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru melalui pembangunan fasilitas, kebutuhan energi, jaringan telekomunikasi, teknologi, pemeliharaan dan tenaga kerja.
Dampaknya juga dapat menjalar ke rantai pasok yang lebih luas. Mulai dari sektor konstruksi hingga kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan di bidang teknologi dan infrastruktur digital.
Belajar dari Negara Lain
Chile dapat menjadi salah satu gambaran mengenai potensi dampak ekonomi dari pembangunan data center.
Investasi Amazon Web Services (AWS) lebih dari US$4 miliar untuk membangun tiga data center di Chile diperkirakan pemerintah negara tersebut memberikan kontribusi sekitar US$10 miliar terhadap produk domestik bruto (GDP) dan mendukung lebih dari 7.000 lapangan kerja penuh waktu setiap tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa manfaat pembangunan data center tidak berhenti pada bertambahnya kapasitas komputasi.
Dampak yang lebih luas bergantung pada sejauh mana investasi tersebut mampu menciptakan lapangan pekerjaan, menggerakkan rantai pasok domestik, meningkatkan kemampuan digital dan menghasilkan aktivitas ekonomi baru.
Bagi Indonesia, peluang tersebut menjadi semakin relevan seiring dengan meningkatnya kebutuhan komputasi akibat perkembangan AI.
Jika tahap awal digitalisasi banyak bertumpu pada konektivitas, fase berikutnya membutuhkan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar.
Kebutuhan tersebut mencakup GPU, cloud computing, jaringan, listrik dan data center sebagai infrastruktur utama.
Karena itu, memiliki pasar digital yang besar saja tidak cukup. Indonesia perlu memastikan bahwa kapasitas infrastruktur yang dibangun mampu mendukung pengembangan teknologi dan menghasilkan produk maupun layanan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Indonesia Masih Mengejar Kapasitas Regional
Persaingan membangun kapasitas data center juga semakin terlihat di kawasan Asia Tenggara.
Data Bank Dunia pada semester pertama 2025 mencatat kapasitas data center Indonesia berada di sekitar 1,17 GW.
Angka tersebut masih berada di bawah Malaysia yang mencapai sekitar 3,17 GW. Sementara itu, Singapura memiliki kapasitas sekitar 1,25 GW.
Meski demikian, kapasitas data center Indonesia diproyeksikan terus bertumbuh. CSIS Indonesia memperkirakan kapasitas tersebut dapat meningkat sekitar 16,8% per tahun hingga 2029 dan mencapai sekitar 1,41 GW.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan besarnya ruang ekspansi industri data center di Indonesia. Namun, pembangunan kapasitas juga membawa tantangan yang tidak kecil.
Salah satunya adalah kebutuhan energi. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar karena fasilitas tersebut harus beroperasi sepanjang waktu untuk memastikan layanan digital tetap tersedia.
Selain listrik, kebutuhan air juga perlu menjadi perhatian, terutama pada fasilitas yang menggunakan teknologi pendingin tertentu.
Peneliti ITB Prof. Reini D. Wirahadikusumah mengatakan kebutuhan energi akan menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan AI.
"Energi dan teknologi Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pilar penting dalam pembangunan. Bahkan AI sendiri membutuhkan energi yang sangat besar untuk dioperasikan," kata Reini.
Kebutuhan energi tersebut membuat pengembangan data center perlu berjalan beriringan dengan strategi penyediaan energi yang andal dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, kondisi ini sekaligus membuka peluang untuk menghubungkan pembangunan data center dengan pengembangan energi terbarukan dan infrastruktur kelistrikan.
Dengan demikian, daya saing Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa besar kapasitas data center yang berhasil dibangun, tetapi juga kemampuan menyediakan listrik yang stabil, kompetitif dan semakin rendah emisi.
Bukan Sekadar Membangun Gedung
Indonesia memiliki sejumlah modal untuk memperbesar kapasitas AI dan data center. Pasar digital yang besar memberikan basis permintaan, sementara perkembangan AI terus meningkatkan kebutuhan terhadap komputasi.
Potensi sumber daya energi juga menjadi faktor pendukung. Namun, seluruh keunggulan tersebut perlu diterjemahkan menjadi ekosistem teknologi yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Artinya, pembangunan data center seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan penambahan kapasitas server.
Investasi yang masuk perlu diikuti dengan pengembangan talenta digital, peningkatan kemampuan perusahaan lokal, penguatan jaringan, pengembangan energi dan munculnya layanan berbasis AI yang memiliki nilai ekonomi.
Jika hal tersebut dapat berjalan secara bersamaan, Indonesia memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh dari sekadar menjadi pasar teknologi.
Data center pada akhirnya bukan hanya tentang tempat menyimpan data. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari fondasi ekonomi digital dan kemampuan sebuah negara untuk mengolah data menjadi teknologi, produk, layanan dan nilai ekonomi.
Tantangan Indonesia ke depan adalah memastikan perlombaan membangun data center tidak hanya menghasilkan kapasitas komputasi yang lebih besar, tetapi juga menciptakan ekosistem AI yang mampu memberikan manfaat ekonomi secara lebih luas dan berkelanjutan.
Dengan begitu, investasi data center tidak hanya memperbesar kapasitas digital Indonesia, tetapi juga dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, tambahnya.

































