Harga emas pun genap turun dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga terpotong lebih dari 2%.
Penyebab pelemahan harga emas adalah lesatan harga minyak dunia. Kemarin, harga minyak jenis brent melonjak 3% ke US$ 106,15/barel.
Perkembangan di Timur Tengah kembali mengerek harga si emas hitam. Asa damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memudar.
Bahkan konflik sepertinya terus bereskalasi. Bloomberg News memberitakan, anggota senior Garda Revolusi Iran Yahya Rahim Safavi menegaskan bahwa zona perang bisa melebar sampai ke Samudera HIndia.
“Sekarang perang sudah meluas dari Teluk Persia ke Selat Hormuz dan ke Laut Merah. Tahap berikutnya bisa sampai ke Samudera Hindia atau di mana saja,” kata Safavi.
Bahkan kondisi pun memanas di Sidang Umum Majelis Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya siap untuk melanjutkan pembicaraan damai, tetapi tidak akan tunduk terhadap ancaman. Teheran tidak akan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz sampai sanksi dan blokade AS dicabut.
Ketika harga energi melambung tinggi, maka dunia akan terus dihantui ancaman inflasi. Alhasil, bank sentral di berbagai negara tidak akan punya banyak pilihan kecuali menaikkan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)





























