Lebih lanjut, Wahyu mengungkapkan harga logam nikel bisa menembus level psikologisnya di kisaran US$19.000—US$20.000/ton, jika pemangkasan produksi meluas secara konsisten ke smelter di luar areal IMIP.
Kendati begitu, Wahyu memandang kenaikan di atas level US$20.000/ton cenderung bakal tertahan oleh respons substitusi, pelepasan cadangan persediaan nikel di gudang bursa, serta elastisitas permintaan dari sektor hilir baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik global.
“Reli spekulatif dapat mendorong harga menembus level psikologis US$19.000 hingga US$20.000 per metrik ton,” tegasnya.
PT IMIP mengonfirmasi sejumlah smelter nikel di kawasan industrinya mengalami penurunan produksi, termasuk fasilitas RKEF yang memproduksi NPI.
Kendati begitu, IMIP mengklaim masih menghitung penurunan produksi dari setiap perusahaan di kawasan dan belum dapat mengonfirmasi produksi NPI dari kawasan IMIP turun sekitar 100.000 ton.
Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menyatakan penurunan produksi terjadi gegara fenomena El Niño menyebabkan penurunan debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP.
Dia tidak menampik PT IMIP selaku pengelola kawasan bersama sejumlah tenant memang tengah melakukan penyesuaian target produksi dan mengupayakan sejumlah alternatif sumber pasokan air cadangan guna meminimalkan dampak.
“Kondisi inilah yang memengaruhi beberapa smelter di Kawasan IMIP mengalami penurunan termasuk pada produksi NPI. Namun, mengenai jumlah penurunannya, kami belum mendapatkan angka pasti dari para tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP,” kata Deddy ketika dimintai konfirmasi Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).
Dia menjelaskan sumber daya air menjadi salah satu penopang operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai energi untuk smelter.
Dedy menambahkan, dalam proses produksi NPI, air digunakan untuk pendinginan komponen tungku listrik, pencetakan slag, serta sistem pendukung PLTU.
Adapun, PT IMIP—yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh raksasa nikel China, Tsingshan Holding Group Co. — dikabarkan telah menginformasikan perusahaan-perusahaan smelter di kawasannya pada akhir pekan lalu untuk mengurangi produksi NPI gegara kekurangan air.
Volume produksi NPI yang terdampak pemangkasan ini diperkirakan mencapai sekitar 100.000 ton, menurut sumber Bloomberg.
Sebagai perbandingan, kapasitas produksi terpasang smelter nikel di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta ton per tahun atau sekitar 350.000 ton per bulan, berdasarkan estimasi Wood Mackenzie.
Dalam kesempatan sebelumnya, Dedy mengamini smelter di kawasan PT IMIP tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
Dedy tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.
“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
Nikel dilego di harga US$16.481/ton di London Metal Exchange (LME) pagi ini, turun tipis 0,91% dari penutupan hari sebelumnya.
(wdh)































