Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, survei Bloomberg terhadap 35 ekonom dan analis menghasilkan konsensus bahwa bank sentral diperkirakan menahan BI Rate pada RDG edisi September. Sebanyak 32 dari 35 ekonom memperkirakan BI mempertahankan suku bunga  di 5,75%.

Artinya, konsensus pasar ini menunjukkan bahwa pasar tidak melihat kebutuhan bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga dalam RDG September, meski lingkungan eksternal masih menantang.

Sebagian besar ekonom dan analis memperkirakan BI Rate tetap berada di 5,75%. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian berpendapat bahwa stabilisasi rupiah tidak harus selalu mengandalkan kenaikan suku bunga. 

Fakhrul menilai, di tengah tingginya yield global, harga minyak, dan ketidakpastian kebijakan moneter global, BI perlu semakin mengoptimalkan instrumen FX swap, DNDF, serta pengelolaan likuiditas dan arus modal asing. 

"Tidak semua masalah rupiah harus dibayar dengan suku bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Kalau sumber tekanannya terutama berasal dari global yield, minyak, dan tingginya risiko valuta asing, maka instrumennya juga harus lebih spesifik terhadap sumber masalah tersebut," terang Fakhrul. 

Senada, Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai kenaikan suku bunga sebesar 100 bps pada Mei-Juni telah cukup mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia, meski perang AS-Iran semakin intensif, harga minyak global meningkat dan imbal hasil obligasi AS naik.

"Rupiah menguat terhadap dolar AS sejak akhir Juli hingga pertengahan September dan mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya," kata Henderson. 

Namun, tiga orang ekonom memperkirakan adanya kenaikan 25 basis poin (bps) menjadi 6%. Salah satu ekonom yang memperkirakan BI Rate akan naik adalah David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). 

Ia memproyeksikan BI rate akan naik 25 bps lantaran tekanan terhadap rupiah kian meningkat. "Bank sentral global seperti The Fed dan BoJ juga menaikkan suku bunga sehingga memberikan tekanan pada kurs mata uang emerging market seperti Indonesia," kata David kepada Bloomberg Technoz

David menambahkan, sampai akhir tahun BI Rate diperkirakan masih ada peluang naik 25-50 bps seiring dengan ekspektasi kenaikan Fed Rate sekali lagi pada Desember. 

Proyeksi David sejalan dengan Sanjay Mathur dari ANZ Bank dan Fikri C. Permana dari KB Valbury Sekuritas. 

(lav)

No more pages