Logo Bloomberg Technoz

"Jadi penambahan dari natural hedging. Menggunakan PLTS dengan battery energy storage system," katanya. 

Darmawan menambahkan bahwa penambahan daya dari PLTS berbasis baterai tersebut difungsikan untuk memitigasi kekurangan pasokan listrik selama musim kemarau berlangsung. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Selain di Sulawesi Selatan, PLN juga terus mengatasi tantangan pasokan listrik di beberapa wilayah lain akibat dampak El Ninõ, termasuk di Kalimantan dengan menuntaskan permasalahan di beberapa pembangkit listrik secara bertahap.

"Ada beberapa daerah termasuk di Kalimantan ini sedang kami selesaikan satu persatu. Termasuk beberapa pembangkit," ungkapnya. 

Adapun, pemanfaatan PLTS ini merupakan bagian penguatan sistem kelistrikan Sulbagsel, yaitu melalui program PLTS 100 gigawatt (GW).

Dia menjelaskan perseroan akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan sekitar 5,2 GWp PLTS dan 8,2 gigawatt hour (GWh) BESS.

"Kombinasi ini akan membuat sistem Sulbagsel lebih beragam, fleksibel, dan resilien," ungkap Darmawan.

Sebelumnya, Darmawan melaporkan melakukan inspeksi ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jeneponto berkapasitas 2 x 100 megawatt (MW) milik swasta yang terkendala oleh gangguan teknis hingga menyebabkan pasokan listrik berkurang.

"Setiap megawatt sangat berarti dalam kondisi seperti ini. Karena itu, kami membantu mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto agar dapat segera kembali masuk ke sistem. Bersamaan dengan itu, kami terus mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan pasokan," kata Darmawan dalam siaran pers, Rabu (15/9/2026).

Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (APPLTA) mengatakan El Niño telah mengancam keandalan pasokan listrik untuk industri fasilitas pemurnian mineral (smelter) di Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan.

Anggota Dewan Penasihat APPLTA Paul Butarbutar mengungkapkan saat ini sudah ada pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di wilayah tersebut yang mulai terdampak kekeringan, salah satunya PLTA Malea.

"Paling terdampak mungkin [PLTA] yang di Sulawesi. Di Sulawesi itu ada PLTA Malea sudah mulai terdampak kekeringan," ungkap Paul saat dihubungi, Rabu (9/9/2026).

Meskipun ancaman kekeringan nyata, APPLTA mengonfirmasi pengusaha pembangkit hidro belum mengumpulkan data komprehensif mengenai tingkat penyusutan debit air secara menyeluruh pada pembangkit listrik di wilayah tersebut.

"Belum ada satu angka rata-rata nasional yang dipublikasikan secara resmi dan seragam untuk seluruh PLTA," kata Paul.

Dia menambahkan durasi fenomena kemarau ini berpotensi berlangsung cukup lama atau hingga awal 2027, berdasarkan proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kondisi tersebut menuntut antisipasi jangka panjang dari sektor industri setempat.

Untuk diketahui, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki fleksibilitas pasokan energi berkat penerapan skema mix generation atau sistem pembangkitan campuran dari pelbagai sumber energi.

Kawasan ini mengandalkan pembangkit hidro seperti PLTA Bakaru yang berkapasitas 126 megawatt (MW), PLTA Malea 90 MW, dan PLTA Bili-Bili 20 MW, serta dukungan pasokan beban puncak dari PLTA terbesar yaitu PLTA Poso hingga 515 MW.

Adapun, porsi PLTA dalam struktur kelistrikan Sulawesi Selatan cukup besar yaitu  menyumbang sekitar 37% atau setara 750 MW dari total kapasitas pasokan energi listrik regional.

(smr/ros)

No more pages