Hal yang bisa perusahaan sampaikan adalah potensi menyewa sebagian fasilitas produksi chip Intel yang telah lama direncanakan di Ohio atau membentuk usaha patungan dengan Intel dan perusahaan-perusahaan cloud computing, dilaporkan Bloomberg News.
“Kami ingin mengklarifikasi bahwa belum ada keputusan final terkait kerja sama dengan perusahaan-perusahaan tertentu yang disebutkan dalam artikel tersebut atau produksi chip memori di Amerika Serikat. SK Hynix sedang menjajaki berbagai opsi untuk memperkuat daya saing globalnya, namun belum ada rencana atau kesepakatan spesifik yang telah disepakati hingga saat ini,” jelas SK Hynix.
Intel sendiri belum mengonfirmasi rencana tersebut dan menyebut kerja sama itu sebagai spekulasi, tetapi mengatakan tetap melanjutkan investasi untuk mempersiapkan fasilitasnya di Ohio.
CEO Intel, Lip-Bu Tan, telah menekankan bahwa Intel perlu fokus pada bidang-bidang di mana perusahaan dapat memimpin, seperti dalam pengemasan canggih, dan menjalin kemitraan di bidang-bidang di mana pihak lain memiliki posisi teknologi yang lebih kuat, menurut analis Citigroup Atif Malik, Elizabeth Sun, dan James Bowlin.
Pernah Jadi Bisnis Pertama Intel
Memori merupakan salah satu bisnis pertama perusahaan ketika Intel meluncurkan produk chip memorinya pada 1960-an. Namun, Intel kemudian mengurangi keterlibatannya di bisnis tersebut dan menjual bisnis NAND flash kepada SK Hynix. Transaksi senilai US$9 miliar atau sekitar Rp149 triliun tersebut mulai ditutup pada 2020 dan prosesnya diselesaikan pada 2025.
Rencana tersebut muncul ketika industri semikonduktor menghadapi lonjakan permintaan memori akibat pembangunan pusat data AI. SK Hynix sendiri merupakan salah satu produsen utama DRAM dan NAND flash, sekaligus pemasok utama high-bandwidth memory (HBM) yang digunakan bersama prosesor AI.
HBM menjadi komponen penting dalam sistem komputasi AI karena mampu menyediakan bandwidth data yang tinggi untuk pemrosesan model AI.
Permintaan dari perusahaan AI dan pusat data telah memperketat pasokan memori. Kondisi tersebut membuat perusahaan teknologi dan penyedia cloud berupaya mengamankan pasokan memori untuk kebutuhan komputasi mereka.
Reuters menyebut salah satu skenario yang sedang dibahas adalah melibatkan perusahaan cloud dalam perusahaan patungan dengan Intel dan SK Hynix. Model tersebut dapat memberikan kepastian pasokan memori bagi perusahaan cloud sekaligus membuka peluang bagi Intel untuk memanfaatkan fasilitas manufakturnya di Ohio.
Namun, jenis memori yang akan diproduksi belum ditentukan. Produk SK Hynix mencakup DRAM, NAND flash, serta HBM. Produksi HBM atau DRAM di AS juga dapat menghadapi pemeriksaan pemerintah Korsel karena teknologi tersebut dapat masuk kategori teknologi inti nasional.
Baca Juga: Big Bos SK Hynix Sebut Krisis Chip Memori Sampai 2030
Selain rencana di Ohio, SK Hynix sedang membangun fasilitas senilai sekitar US$4 miliar di Indiana. Fasilitas tersebut akan menjadi pusat pengemasan HBM dan ditargetkan mulai berproduksi pada paruh kedua 2029. Berbeda dengan rencana produksi di Ohio, fasilitas Indiana merupakan fasilitas back-end yang menggunakan DRAM untuk kemudian dikemas menjadi produk HBM.
(mef/wep)




























