Logo Bloomberg Technoz

Legacy Perempuan ANTAM dan Tanggung Jawab kepada Negara


Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira saat Intimate Dinner Women on The Move 2026 di Lombok, Sabtu (12/9/2026).
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira saat Intimate Dinner Women on The Move 2026 di Lombok, Sabtu (12/9/2026).

Bloomberg Technoz, Jakarta - Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT ANTAM (Persero) Tbk Arini Kasmira memandang karier di perusahaan milik negara bukan semata perjalanan profesional. Bagi dia, posisi tersebut membawa tanggung jawab untuk memastikan kesempatan dan kepercayaan yang diterima dapat memberi manfaat lebih luas.

Pesan itu disampaikan Arini dalam sesi Intimate Dinner “Women Leading Change and Creating Impact” pada rangkaian Bloomberg Technoz Women On The Move 2026 di Sudamala Resort Senggigi, Lombok, Sabtu (12/9/2026).

Arini mengatakan perjalanan menuju posisi kepemimpinan tidak selalu berlangsung mulus. Dalam perjalanannya, dia menghadapi berbagai keraguan yang mempertanyakan usia, gender, hingga latar belakangnya.

“Saya juga sering dibilang, kamu masih muda, gak bisa, kamu perempuan, gak bisa, kamu anak Sumatera dari daerah gak bisa, so many kata tidak bisa atau tidak layak yang saya hadapin,” ujar Arini.

Alih-alih menjadikan berbagai keraguan tersebut sebagai batas, Arini memilih melihat kesempatan yang diperolehnya sebagai sesuatu yang harus dimanfaatkan. Pendidikan dan pengalaman yang telah diperolehnya, menurut dia, memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab untuk memberikan manfaat.

“Sometimes those gift being curse juga, kalau kalian tidak memanfaatkan giftnya,” kata Arini.

Bagi Arini, persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika seseorang bekerja di perusahaan milik negara. Status sebagai bagian dari BUMN membuat pekerjaan yang dijalankan memiliki dimensi tanggung jawab publik karena terdapat kepentingan masyarakat yang lebih luas di dalamnya.

“Karena saya kerja di BUMN, gak boleh kita sia-siain,” ujar Arini.

Dari Pencapaian Personal ke Dampak Publik

Arini melihat ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup hanya dari pencapaian personal. Dampak yang dihasilkan kepada organisasi, masyarakat, hingga negara menjadi bagian penting dari perjalanan kepemimpinan.

Dia menggambarkan bagaimana skala dampak dapat berubah ketika seseorang berada dalam posisi yang memiliki cakupan tanggung jawab lebih besar. Kontribusi tidak lagi hanya dirasakan oleh lingkaran terdekat, tetapi dapat menjangkau masyarakat dalam jumlah yang jauh lebih besar.

“Kalau kamu hanya untuk rumah tanggamu, ya 1, 2, tapi kalau society, kami, grup itu mungkin 30-50 ribu orang, ya impactnya rame yang ngerasain,” katanya.

Dalam konteks BUMN, Arini menilai dampak tersebut dapat meluas hingga masyarakat sebagai penerima manfaat dari aktivitas perusahaan. Dia juga menyinggung kontribusi perusahaan kepada negara sebagai bagian dari rantai manfaat yang perlu diperhitungkan oleh seorang pemimpin.

“Terus dividennya, dividennya nomor 5 atau 4 ke negara, ya 280 juta yang ngerasain,” ujar Arini.

Karena itu, menurut Arini, posisi strategis yang dimiliki perempuan di BUMN juga dapat menjadi sarana untuk membangun role model bagi generasi berikutnya. Keberadaan perempuan di level kepemimpinan dapat membuka perspektif bahwa posisi tersebut dapat diisi oleh lebih banyak perempuan.

Perempuan dan Regenerasi Kepemimpinan

Arini menilai kebutuhan terhadap role model menjadi semakin penting di sektor yang masih didominasi laki-laki. Dia mengatakan komposisi tenaga kerja di lingkungan pertambangan membuat perempuan menghadapi tantangan tersendiri untuk mencapai posisi kepemimpinan.

“Jadi harus ada yang ngasih contoh, kenapa bukan kita?” kata Arini.

Menurut dia, kehadiran perempuan di posisi strategis tidak hanya berkaitan dengan representasi. Ada fungsi regenerasi yang dapat dibangun ketika seorang perempuan menunjukkan bahwa kepemimpinan di sektor strategis dapat menjadi ruang bagi generasi berikutnya.

“Kalau Mama bisa ngasih contoh, bisa nanti create leader-leader perempuan berikutnya,” ujarnya.

Bagi Arini, gagasan tersebut berkaitan erat dengan legacy. Kepemimpinan tidak berhenti pada posisi yang sedang ditempati, tetapi juga menyangkut apa yang dapat ditinggalkan untuk orang lain setelah seseorang melewati fase kariernya.

“Karena nanti anaknya siapa-siapa juga perempuan, bisa jadi legacy,” kata Arini.

Dia pun mengaitkan legacy dengan konsep “creating lasting impact” yang menjadi bagian dari tema Women On The Move 2026. Menurut Arini, dampak yang bertahan lebih lama membutuhkan upaya untuk menciptakan manfaat yang dapat diteruskan kepada orang lain.

Dalam perjalanan tersebut, Arini mengakui bahwa setiap fase kehidupan membawa tantangan berbeda. Perubahan dalam kehidupan pribadi maupun profesional dapat membuat seseorang harus kembali mengevaluasi arah yang sedang ditempuh.

Namun, dia melihat proses evaluasi sebagai bagian dari perjalanan. Tantangan tidak selalu harus dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian yang perlu dijalani dengan menata kembali tujuan dan menghargai kesempatan yang telah diterima.

“Along the way, niatnya dilurusin, dan diliat bersyukur apa yang kita punya, apa yang udah dikasih Allah, apa yang dikasih keluarga, apa yang dikasih masyarakat, apa yang dikasih negara,” ujar Arini.

Menurut Arini, perspektif tersebut penting bagi perempuan yang menjalani karier sekaligus menghadapi berbagai fase kehidupan. Tidak semua perjalanan dapat berlangsung sesuai dengan ekspektasi awal, sehingga kemampuan untuk beradaptasi dan mengevaluasi kembali pilihan menjadi bagian dari proses.

Pada akhirnya, Arini menempatkan kepemimpinan sebagai bentuk tanggung jawab atas kesempatan yang telah diterima. Bagi dia, semakin besar ruang yang diberikan kepada seorang pemimpin, semakin besar pula peluang untuk menciptakan dampak bagi organisasi dan masyarakat.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi perempuan di lingkungan BUMN, terutama ketika semakin banyak perempuan mengambil posisi strategis. Bagi Arini, keberadaan mereka bukan hanya tentang pencapaian hari ini, tetapi juga tentang membuka jalan bagi pemimpin perempuan berikutnya.

Dengan perspektif itu, legacy tidak semata diukur dari jabatan atau pencapaian seorang pemimpin. Legacy juga dapat tercermin dari seberapa jauh kesempatan yang dimiliki mampu diteruskan menjadi manfaat, teladan, dan ruang bagi generasi selanjutnya.