Sebagai importir energi, harga minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar untuk membiayai impor dan berpotensi menekan ruang fiskal negara-negara berkembang.
Sumber tekanan yang berasal dari harga energi itu juga terjadi bersamaan dengan adanya potensi pengetatan moneter AS.
Berdasarkan CME FedWatch, ada peluang sekitar 86,2% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Padahal, sebelum data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) dirilis Jumat lalu, peluangnya baru sekitar 70%.
Walaupun demikian, menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, ada kemungkinan The Fed menghindari kenaikan suku bunga September dengan kebijakan quantitative tightening yang lebih ketat.
Skenario ini dapat membuat The Fed melakukan cara lain untuk merespons inflasi yang masih persisten tanpa harus menaikkan Fed Fund Rate secara langsung.
Lewat quantitative tightening itu, The Fed diperkirakan akan membiarkan surat berharga yang dimilikinya jatuh tempo tanpa melakukan reinvestasi. Dengan begitu, likuiditas yang beredar di sistem keuangan secara bertahan juga ikut kering.
Analisa Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi lanjut melemah hari ini, dibayangi sejumlah sentimen yang menekan hingga sikap wait and see, cermati support terdekat menuju level Rp17.650/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.700/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan hingga menuju level Rp17.800/US$ sebagai support paling terkuatnya dalam time frame daily, dalam perdagangan sepekan.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan dengan volume besarnya berhasil menembus resistance, menarik dicermati area level Rp17.550/US$ dan selanjutnya Rp17.500/US$ secara potensial, terlebih lagi ada resistance Rp17.400/US$.
(rst)































