Pada pembuat kebijakan di kawasan akan menghadapi tekanan untuk mampu memberi bantalan bagi rumah tangga dan dunia usaha yang pendapatannya telah tergerus oleh inflasi yang sepertinya sulit turun.
Tapi, defisit anggara yang juga sudah membengkak, dan suku bunga tinggi, membuat ruang gerak otoritas moneter kawasan menjadi lebih sempit.
“Lonjakan harga minyak kembali membawa persoalan terms of trade, inflasi, dan kekhawatiran fiskal jangka menengah ke dalam perhatian,” kata Wee Khoon Chong, senior market strategist untuk Asia Pasifik di BNY di Hong Kong, seperti dikutip Bloomberg News.
Bagi Indonesia, persoalan harga minyak selama ini telah membebani fiskal. Dengan harga rata-rata minyak berada di US$90/barel, sementara asumsi anggaran dalam APBN adalah US$70/barel, pemerintah perlu memangkas anggaran untuk program lainnya agar dapat membiayai tagihan subsidi.
Selain harga minyak, tekanan pada pasar valuta di kawasan juga terbebani oleh ekspektasi naiknya suku bunga acuan The Fed, Fed Fund Rate (FFR).
Pasar kini menilai kenaikan suku bunga pada pekan berpotensi terjadi. Berdasarkan CME Fed Watch, ada peluang sekitar 86,2% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Padahal, sebelum data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) dirilis Jumat lalu, peluangnya baru sekitar 70%.
Tingkat inflasi berada di 3,4% pada Agustus, sesuai ekspektasi analis dan ekonom. Angka ini juga stagnan dari posisi inflasi Juli. Tapi, inflasi umum meningkat pada Agustus jadi 0,4%, dari posisi Juli hanya 0,07% akibat kenaikan harga minyak. Begitu juga dengan inflasi inti naik dari posisi Juli.
Bagi Bank Indonesia (BI), yang pekan depan akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk menentukan arah suku bunga, kombinasi hawkish dan tingginya harga minyak membuat ruang pelonggaran berpotensi menyempit.
BI sebelumnya mempertahankan BI Rate di 5,75%, dan secara eksplisit menyebut kenaikan FFR, yield US Treasury, serta kuatnya dolar AS sebagai bagian dari risiko global yang menekan preferensi investor terhadap aset negara berkembang.
Dengan begitu, jika The Fed benar-benar mengambil langkah hawkish, kebijakan itu berpotensi mengubah kalkulasi BI. Sebab, Indonesia harus menghadapi kenaikan biaya impor energi dan berpotensi mengerek inflasi lebih tinggi.
Sebagai catatan, inflasi Agustus tercatat menguat jadi 3,19%, dari posisi Juli yang hanya 2,88%. Meskipun masih berada dalam sasaran BI 2,5±1%, namun harga minyak yang persisten masih akan mengerek inflasi lebih tinggi.
Terlebih jika pemerintah kekurangan tenaga dan harus mentransmisikan dampak inflasi impor itu mennjadi kenaikan harga bensin, termasuk jenis subsidi.
Dengan sentimen dan tekanan yang ada, rupiah berpotensi kembali meguji level psikologisnya. Kombinasi ekspektasi hawkish The Fed, kenaikan imbal hasil US Treasury, dan harga minyak yang bertahan tinggi dapat membatasi ruang penguatan rupiah.
Hari ini, pergerakan rupiah spot diperkirakan tertekan dan berada di rentang Rp17.600-Rp17.700/US$. Rupiah dapat bergerak di rentang Rp17.500-Rp17.600, apabila bank sentral AS mengambil sikap dovish dan harga minyak kembali mereda sepanjang pekan ini.
(riset)





























