Konflik di Timur Tengah telah memanas dalam beberapa hari terakhir; kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menyatakan telah menargetkan fasilitas energi Saudi di Abha, Najran, dan Jazan, sementara AS melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak Iran.
Jalur pipa Timur-Barat telah menjadi jalur vital bagi ekspor minyak Arab Saudi di tengah gangguan akibat konflik yang melibatkan Iran.
Saluran pipa berkapasitas 7 juta barel per hari ini dengan cepat mencapai kapasitas penuh pada awal tahun ini setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir terhenti total.
Jalur pipa ini mengalirkan minyak dari Teluk Persia menuju Laut Merah, tempat minyak tersebut dapat dimuat ke kapal tanker.
Namun, rute tersebut belakangan ini mendapat tekanan akibat serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Serangan Kamis merupakan "bukti yang cukup jelas bahwa Iran maupun sekutunya memiliki kemampuan dan niat untuk menyerang infrastruktur energi kawasan, dan bahwa infrastruktur tersebut rentan terhadap serangan rudal balistik atau pesawat nirawak," ujar Gregory Brew, seorang analis geopolitik di Eurasia Group.
Harga minyak tidak banyak berubah setelah pernyataan kementerian tersebut, dengan minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan di kisaran US$105 per barel.
Harga Brent sempat melonjak pada Kamis hingga hampir menyentuh $110 akibat spekulasi mengenai dampak kekerasan terbaru terhadap pasokan energi di kawasan tersebut.
"Dampak gangguan tersebut sudah diperhitungkan dalam harga pasar," kata Brew.
Ekspor minyak kerajaan tersebut merosot hingga hanya sekitar 3 juta barel per hari pada bulan Agustus—angka terendah sejak awal 2017—akibat serangan militan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah.
Ancaman dari Houthi ini muncul di tengah terus terhambatnya arus minyak melalui Selat Hormuz.
AS telah memberlakukan blokade terhadap pengiriman minyak dari pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran terus menargetkan pelayaran di selat tersebut.
Menurut para eksekutif industri dan data dari lembaga pelacak kapal tanker Vortexa, sekitar 1 juta barel produk minyak per hari kini dikirim melalui jalur perairan yang menjadi titik sengketa tersebut; angka ini turun dari volume sebelum konflik yang mencapai sekitar 4 juta barel.
Akibatnya, bukan hanya harga minyak yang naik, melainkan harga bahan bakar global juga turut melonjak.
Harga eceran rata-rata bensin di AS bertahan di atas US$4 per galon—angka tertinggi secara musiman—sementara harga eceran rata-rata solar di AS telah melonjak tajam hingga mencapai rekor US$6 per galon.
Sejumlah penyangga yang sempat meredam dampak gangguan pasokan energi pada masa awal perang kini kian menipis.
Cadangan minyak AS telah merosot tajam, sementara sebagian besar cadangan darurat yang dilepas oleh berbagai pemerintah telah masuk ke pasar.
Pekan ini, pasukan Houthi bergerak maju ke arah selatan menyusuri pesisir Laut Merah Yaman menuju Selat Bab el-Mandeb sembari terus melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke Arab Saudi, yang memaksa negara tersebut menghentikan operasi di sejumlah fasilitas energi.
Pergerakan maju ini kini menghadapkan kerajaan tersebut pada pilihan sulit: meningkatkan eskalasi kampanye militer—yang selama bertahun-tahun gagal menaklukkan kelompok militan tersebut—atau membiarkan Houthi memiliki kendali lebih besar atas wilayah Laut Merah.
"Riyadh berada dalam posisi sulit," ujar Fernando Ferreira, seorang analis di Rapidan Energy Group.
"Saat AS mempertahankan blokade dan berhasil mengawal lebih banyak kapal tanker keluar dari kawasan tersebut, Iran akan beralih dengan meningkatkan serangan terhadap fasilitas-fasilitas energi di kawasan Teluk."
(bbn)




























