Kendati begitu, SMM memang tak menegaskan apakah pengiriman bauksit yang terhambat terjadi di tambang di wilayah Kalimantan atau bukan.
“Menurut sumber-sumber, tingkat air di Indonesia saat ini rendah dan telah memengaruhi pengiriman dari beberapa tambang bauksit di dalam negeri, yang berpotensi menyebabkan gangguan pada produksi alumina jika situasi tidak membaik,” tulis SMM.
Berdasarkan penelusuran, terdapat sejumlah tambang bauksit yang berada di pesisir sungai Kapuas, antara lain; Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Bauksit Kalimantan Barat PT Aneka Tambang (Antam), PT Bintang Tayan Mineral, serta PT Kapuas Bara Mineral.
Dalam catatan Trendasia, PT Bintang Tayan Mineral memiliki konsesi seluas 1.028 hektare (ha) dan PT Kapuas Bara Mineral memiliki konsesi 9.245 ha. Kedua perusahaan tersebut disebut memiliki kaitan dengan PT Bintan Aluminium Indonesia (BAI).
Sementara itu, UBP Bauksit Kalbar Antam memiliki izin usaha pertambangan (IUP) seluas 34.360 ha. Hasil bijih bauksit dari tambang tersebut dilaporkan diolah oleh anak perusahaan Antam yakni PT Indonesia Chemical Alumina.
Trendasia juga mencatat hasil pertambangan bauksit tersebut dikirim ke smelter grade alumina refinery (SGAR) 1 milik PT BAI.
Perwakilan Antam belum merespons permintaan tanggapan dan konfirmasi yang dikirimkan Bloomberg Technoz.
Di sektor batu bara, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengonfirmasi penyusutan debit air di sepanjang aliran sungai Kapuas memicu hambatan signifikan pada proses distribusi batu bara, meskipun produksi saat ini berada dalam kondisi optimal.
“Memang sejauh ini beberapa sungai dilaporkan mulai surut. Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam terdampak oleh kekeringan ini,” kata Ketua Komite Pertambangan Bidang ESDM Apindo Hendra Sinadia saat dihubungi, Kamis (10/9/2026).
Sungai Mahakam
Di sisi lain, Asosiasi Pertambangan batu bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi bahwa surutnya sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara, bahkan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyatakan hingga kini asosiasinya masih belum dapat mengestimasi volume ekspor batu bara yang pengirimannya terhambat akibat surutnya sungai Mahakam.
Meskipun begitu, dia menyatakan bahwa penurunan debit air di sungai Mahakam membatasi draft tongkang sehingga muatan tidak dapat dimaksimalkan.
“Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi menyatakan telah mengeluarkan instruksi agar seluruh perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan batu bara di tongkang menjadi sekitar 5.500—6.000 ton.
Mursidi menjelaskan, dalam kondisi normal, tongkang pengangkut batu bara dapat mengangkut hingga 7.000 ton batu bara.
Namun, saat ini kondisi tersebut dapat membahayakan pelayaran sebab debit air mengalami penyusutan.
“Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah,” kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).
Sungai Mahakam merupakan salah satu jalur nadi perdagangan batu bara paling penting di Borneo.
Dengan lebih dari 200 tongkang yang melintas per harinya, aktivitas pengangkutan batu bara di sungai tersebut disebut-sebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp2,4 triliun per hari atau Rp864 triliun per tahun.
PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menjadi salah satu perusahaan yang memanfaatkan sungai Mahakam untuk pengiriman batu bara.
HRUM melakukan penambangan di sejumlah lokasi dan mengangkut batu bara dari tambang MSJ dan SBB menggunakan truk sejauh hingga 50 kilometer menuju fasilitas pengolahan, penimbunan, dan pemuatan tongkang di Separi yang berada di tepi sungai Mahakam.
Selain HRUM, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga mengandalkan sungai Mahakam untuk mengangkut batu bara dari tambangnya di Kalimantan Timur.
Bayan memiliki tambang Teguh Sinar Abadi (TSA) dan Firman Ketaun Perkasa (FKP) di Kutai Barat yang memproduksi sekitar 3 juta ton batu bara bituminus per tahun. Dari lokasi penambangan, batu bara diangkut sejauh 20 hingga 25 kilometer menuju fasilitas pemuatan tongkang yang dimiliki dan dioperasikan Bayan Group di sungai Mahakam.
Sungai Barito
Sementara itu, di sungai Barito, Argus Media melaporkan terjadi penurunan kedalaman sungai Barito yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atas pengiriman batu bara.
“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Adapun, Ketua Komite Pertambangan Bidang ESDM Apindo Hendra Sinadia mengungkapkan surutnya sungai Barito akibat El Niño diperkirakan menyebabkan pengiriman sekitar 3,9 juta ton batu bara terhambat dalam satu bulan.
Hendra menegaskan belum menerima laporan perusahaan yang mengumumkan keadaan kahar atau wanprestasi.
“Info yang saya dapat dari perusahaan anggota, dampak dari mulai suratnya hulu sungai Barito mengganggu shipment yang diperkirakan sekitar 3,9 juta ton dalam sebulan,” kata Hendra ketika dihubungi, Senin (7/9/2026).
Salah satu perusahaan yang memanfaatkan sungai Barito untuk pengiriman batu bara adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).
Dalam laporan tahunan 2025, AADI menjelaskan batu bara yang telah dikeluarkan dari tambang ditampung sementara di run of mine, sementara sebagian besar batu bara dari ROM di Kalimantan Selatan diangkut menuju fasilitas pengolahan dan pemuatan tongkang di terminal khusus batu bara Kelanis yang berada di sungai Barito.
Selain itu, PT Adaro Logistics memiliki anak usaha PT Maritim Barito Perkasa (MBP) yang menjalankan bisnis pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito.
Penggunaan sungai Barito juga dilakukan PT Borneo Prima Coal Indonesia (BPCI) yang memiliki tambang batu bara kokas Muara Temeh di sepanjang Sungai Barito, Kalimantan Tengah.
BPCI memegang izin usaha pertambangan untuk konsesi seluas 4.798 hektare dan mengandalkan jalan tanah sepanjang 27 kilometer untuk mengangkut batu bara dari tambang menuju dermaga yang beroperasi di sungai Barito sebelum diteruskan ke Pelabuhan Taboneo di Banjarmasin.
(azr/wdh)





























