Logo Bloomberg Technoz

“Kalau di bauksit itu terutama refinery-refinery yang gede itu di pinggir laut. Jadi jalurnya bukan jalur sungai, tetapi pakai laut,” tambahnya. 

Timbunan batubara, bijih besi dan bauksit./Bloomberg-Nathan Laine

Ronald menambahkan berbeda dengan industri batu bara—khususnya di Kalimantan Timur—yang bergantung pada jalur sungai besar, pengangkutan bauksit tidak terlalu bergantung pada debit air sungai.

Menurut Ronald, sekalipun harus melalui sungai, tongkang bauksit jauh lebih kecil sehingga lebih fleksibel dan menyesuaikan kedalaman alur sungai lokal sebelum memindahkan muatan ke kapal atau tongkang yang lebih besar di laut.

Selain itu, karena kapasitas pengangkutan bauksit yang tidak sebesar batu bara memungkinkan pelaku usaha memanfaatkan jalur darat menggunakan armada truk jika debit air sungai kecil menyusut.

“Masih bisa menggunakan kendaraan darat, karena kapasitas logistiknya bauksit itu tidak sebesar batu bara,” ungkapnya. 

Adapun ABI mencatat terdapat dua fasilitas pemurnian bauksit skala besar yang beroperasi di wilayah pesisir Kalimantan Barat.

Fasilitas pemurnian pertama adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia. Pabrik ini berlokasi di Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Untuk menunjang mobilitas distribusi hasil olahan di pasar domestik maupun ekspor, smelter yang dikembangkan oleh konsorsium BUMN MIND ID melalui PT Inalum dan PT Aneka Tambang (Antam) ini telah terintegrasi langsung dengan Terminal Kijing Pelindo.

Proyek pemurnian besar lainnya adalah smelter milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT WHW) yang terletak di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Pabrik ini berdiri tepat di tepi pantai Laut Jawa dan dilengkapi dengan Terminal Khusus (Tersus) mandiri berstandar internasional untuk melayani aktivitas bongkar muat kapal tongkang serta kapal kargo berukuran besar.

Sebagai Smelter Grade Alumina (SGA) pertama di Indonesia, PT WHW kini menjadi yang terbesar di tanah air dengan total kapasitas produksi mencapai 2 juta ton alumina per tahun setelah menyelesaikan proyek ekspansinya.

“Ya kalau yang besar pakai [jalur] laut misalnya WHW dan BAI. BAI yang BUMN di pinggir laut. Jadi rata-rata di pinggir laut,” ungkapnya.

Dengan keberadaan pabrik pemurnian yang berada tepat di pesisir pantai, ABI optimistis ancaman El Niño tidak akan mengganggu stabilitas produksi maupun distribusi bauksit nasional.

“Fleksibilitas ini memastikan pasokan bijih bauksit menuju pabrik pengolahan alumina maupun pengapalan produk jadi ke pasar tujuan tetap berjalan sesuai jadwal tanpa terkendala pasang surut air sungai,” jelasnya.

Meski begitu, Shanghai Metals Market (SMM) pada Rabu (9/9/2026) melaporkan penurunan tingkat air di Indonesia telah memengaruhi pengiriman dari beberapa tambang bauksit, bahkan berpotensi menyebabkan gangguan produksi alumina jika situasi tidak membaik.

Kendati begitu, SMM memang tak menegaskan apakah pengiriman bauksit yang terhambat terjadi di tambang di wilayah Kalimantan atau bukan.

“Permukaan air di Indonesia rendah dan telah memengaruhi pengiriman beberapa tambang bauksit domestik, yang dapat menyebabkan gangguan pada produksi alumina jika situasi tidak membaik. Hingga saat ini, situasi masih berlanjut dan diperkirakan akan terus berlangsung tanpa batas waktu,” tulis SMM.

Adapun, cadangan bauksit Kalimantan Barat yang mencapai lebih dari 840 juta ton mengkondisikan wilayah ini sebagai pusat pemrosesan alumina terbesar di Indonesia.

Selain smelter milik PT BAI dan WHW, terdapat pula fasilitas pemurnian alumina pertama, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) di Tayan, Sanggau, memiliki kapasitas produksi Chemical Grade Alumina (CGA) sebesar 300.000 ton per tahun.

Ketiga smelter alumina tersebut menyerap konsumsi bijih bauksit mentah secara total hingga melebihi 14 juta ton per tahun guna menghasilkan produk olahan siap ekspor dan pasokan dalam negeri.

Sebelumnya, kemarau yang dipicu oleh fenomena El Niño memicu penurunan debit air ekstrem dan pendangkalan di sungai-sungai besar Kalimantan, seperti Sungai Barito, Sungai Mahakam, dan Sungai Kapuas.

Di sektor batu bara, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengonfirmasi penyusutan debit air di sepanjang aliran sungai Kapuas memicu hambatan signifikan pada proses distribusi batu bara, meskipun produksi saat ini berada dalam kondisi optimal.

“Memang sejauh ini beberapa sungai dilaporkan mulai surut. Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam terdampak oleh kekeringan ini,” kata Ketua Komite Pertambangan Bidang ESDM Apindo Hendra Sinadia saat dihubungi, Kamis (10/9/2026).

Senada, Ketua Umum Asosiasi Penambang Batubara Indonesia (APBI) Priyadi Sutarso menjelaskan pendangkalan air sungai secara signifikan merintangi proses distribusi karena tongkang tidak dapat melintas.

"Mahakam, Sungai Barito kandas, Sungai Kapuas juga iya,” ungkap Priyadi ditemui usai agenda Ulang Tahun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).

Priyadi mengonfirmasi ketiga jalur perairan ini mengalami penurunan debit air yang parah secara bersamaan.

Terhambatnya arus lalu lintas sungai tersebut dipastikan mengganggu stabilitas pengiriman batu bara, baik untuk kebutuhan operasional domestik maupun aktivitas ekspor. 

(smr/wdh)

No more pages