Logo Bloomberg Technoz

“Jika dibandingkan dengan peta persaingan global, volume produksi Indonesia tentu belum bisa menyaingi China yang masih mendominasi pasar dunia dengan kapasitas puluhan juta ton,” ujar Wahyu ketika dihubungi, Sabtu (12/9/2026).

“Kendati demikian, lonjakan kapasitas hingga lebih dari 3 juta ton ini akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dan produsen aluminium primer terbesar di luar China, sekaligus memperkuat posisi tawar strategis Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dan transisi energi global,” ungkapnya.

Kapasitas China

Lebih lanjut, Wahyu mencatat kapasitas produksi aluminium China saat ini dibatasi di kisaran 46,5 juta ton. Tak ayal, banyak perusahaan China yang melakukan ekspansi ke luar negeri untuk mengkerek produksi aluminiumnya.

Langkah ekspansi tersebut juga dilakukan di tengah terjadinya gejolak di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasokan energi dan produksi smelter global, sehingga menciptakan celah besar di pasar aluminium internasional.

“Dengan dukungan cadangan bauksit terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki pondasi hulu yang sangat kokoh untuk menangkap peluang emas relokasi industri ini,” tegasnya.

Adapun, berdasarkan data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina saat ini mencapai 9 juta ton per tahun. Pabrik pengolahan tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta ton bauksit per tahun.

Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, dengan sasaran kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta ton.

Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta ton per tahun.

Untukk aluminium, terdapat empat smelter yang sudah beroperasi dengan produksi 1,1 juta ton dari total kapasitas produksi 1,98 juta ton. Smelter tersebut membutuhkan sekitar 2,2 juta ton alumina per tahun.

Pabrik pengolahan alumina yang sudah beroperasi a.l. Well Harvest Winning (Hongqiao) dengan produksi 2 juta ton, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) sebesar 300.000 ton, dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sebesar 1 juta ton (potensial 2 juta ton).

Lalu, PT BAI Bintan Alumina Indonesia (Nanshan) sebesar 4 juta ton, serta PT Borneo Alumindo Prima - BAP (Jinjing Group) sebesar 1,75 juta ton dengan potensi ekspansi hingga 6 juta ton.

Sementara itu, sejumlah proyek masih belum beroperasi, yakni PT Kalimantan Alumina Nusantara (KAN) dengan kapasitas potensial 1 juta ton, East Hope Group sebesar 6 juta ton, PT Laman Mining sebesar 4 juta ton, serta PT Dharma Inti Bersama (DIB) Harita sebesar 2 juta ton.

Proyek lainnya a.l. PT Tian Shan Alumina Indonesia, PT Quality Sukses Sejahtera, PT Dinamika Sejahtera Mandiri, PT Parenggan Makmur Sejahtera, PT Persada Pratama Cemerlang, PT Sumber Bumi Marau, dan PT Kalbar Bumi Perkasa juga tercatat belum beroperasi tanpa perincian kapasitas tambahan.

Untuk smelter aluminium yang telah beroperasi meliputi Inalum dengan produksi 250.000 ton (potensi 600.000 ton), Huachin Aluminium Indonesia sebesar 500.000 ton (potensial 1 juta ton), Alamtri (Adaro) Kaltara sebesar 100.000 ton dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 500.000 ton dan potensi 1,5 juta ton, serta Tsingshan JV Xinfa – Juwan sebesar 250.000 ton.

Beberapa proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026, yakni Tsingshan JV Xinfa – Taijing dengan kapasitas 180.000 ton (potensial 600.000 ton), Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng sebesar 50.000 ton (potensial 250.000 ton), serta PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) sebesar 250.000 ton.

Sementara itu, proyek lain masih belum beroperasi a.l. Shandong Weiqiao–Harita JV dan Nanshan yang masing-masing memiliki potensi kapasitas 1 juta ton, serta sejumlah proyek dalam tahap rencana seperti milik East Hope Group kapasitas produksi 2,4 juta ton), dan CMOC Group kapasitas produksi  2 juta ton, Bosai Minerals Group kapasitas produksi 1 juta ton.

Selanjutnya, PT Borneo Alumindo Prima Kaltara kapasitas produksi 1 juta ton, Dharma Inti Bersama (DIB) Harita kapasitas produksi 1 juta ton, danPT Cita Mineral Investindo Tbk. kapasitas produksi 500.00 ton.

Presiden Prabowo Subianto medio pekan lalu menyatakan raksasa aluminium asal Rusia, United Company Rusal, berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.

Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.

“Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal,” kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

Rusal sendiri merupakan salah satu perusahaan aluminium besar di dunia, di mana produksi aluminium dari perusahaan tersebut mencapai 3,91 juta ton pada 2025 dan setara sekitar 5,3% produksi aluminium dunia.

Namun, jauh sebelum rencana Rusal ingin berinvestasi di Indonesia, sejumlah perusahaan China sudah berbondong-bondong berinvestasi untuk membangun proyek hilirisasi bauksit di Indonesia.

Salah satu perusahaan China yang cukup ekspansif di sektor hilirisasi bauksit tersebut adalah Tsingshan Holding Group Co., perusahaan yang sebelumnya menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel.

Rencana pembangunan smelter aluminium Tsingshan./Bloomberg

Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara; tempat Weda Bay berada.

Belum lama ini, Tsingshan dikabarkan sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar di Indonesia.

(azr/wdh)

No more pages