Dia menjelaskan produksi alumina nasional saat ini masih berada di bawah 10 juta ton per tahun. Menurutnya, kapasitas produksi alumina nasional idealnya tidak melebihi 20 juta ton per tahun karena angka tersebut akan membutuhkan sekitar 60 juta ton bauksit.
Walhasil, Ronald tetap memandang pertumbuhan produksi alumina perlu dibatasi agar tidak menggerus cadangan bauksit dan mengganggu keberlanjutan industri hulu.
"Nah, kalau 60 juta dipaksakan, masih bisa. Artinya dengan cadangan kita 2,8 itu masih punya waktu yang cukup. Tapi kalau dipaksakan lagi untuk lebih besar lagi, ini akan menjadi sesuatu yang kontraproduktif," tegas Ronald.
Menurutnya, tambahan permintaan bauksit dari smelter juga tetap diperlukan untuk menjaga penyerapan produksi penambang.
Dia mengatakan sekitar 48 anggota ABI memiliki RKAB dan sebagian memiliki kapasitas produksi sekitar 1 juta ton, sehingga dapat ikut memasok sekitar 48 juta ton bijih bauksit.
Dengan begitu, dia menilai kehadiran Rusal di sektor alumina Indonesia tidak akan membuat perebutan permintaan bijih bauksit, utamanya dengan smelter alumina dengan investor China.
"Enggak juga, enggak juga [ada perebutan bijih]. Justru saya berharap memang bisa kita jual sekitar 50—60 juta [ton]. Kalau 50—60 juta, anggota saya sekitar 48 yang punya RKAB. Kalau itu masih-masih sejuta kan sudah 48 juta [ton]. Bisa dijual semua ya," tegas Ronald
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengonfirmasi raksasa aluminum Rusia, United Company Rusal, bakal mengembangkan proyek pertambangan bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina.
Dengan begitu, Rusal dipastikan tidak akan membangun pabrik pengolahan atau smelter aluminium di Indonesia.
Bahlil menjelaskan proyek tersebut bakal digarap Rusal bersama perusahaan dalam negeri dan berlokasi di wilayah Kalimantan.
“Oh iya, itu dengan Rusal. Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina, dan itu di daerah Kalimantan,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).
Bahlil menyatakan perizinan pembangunan proyek tambang bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina tersebut sudah hampir final.
Selain itu, studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut juga sedang disusun.
“Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final, dan kita memang melakukan kolaborasi dan mereka melakukan kerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” tegas Bahlil.
Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Rusal berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.
Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.
"Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal," kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, ditayangkan secara daring, Kamis (3/9/2026).
"Rusal akan masuk secara besar-besaran ke Indonesia, mengembangkan pabrik pengolahan bersama dengan kelompok-kelompok Indonesia," tegas Prabowo.
Sekadar catatan, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi oleh investor asal China, di mana sekitar 75% dari semua proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.
CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium.
Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.
Tidak hanya itu, CREA menyatakan total kapasitas pabrik pengolahan alumina Indonesia diproyeksikan meningkat empat kali lipat dari 7 juta ton pada 2025 menjadi 32,5 juta ton pada 2030, dan hampir seluruhnya didorong oleh smelter-grade alumina (SGA).
Sementara itu, kapasitas smelter berbasis chemical grade alumina (CGA) diproyeksikan tetap stagnan di angka 300.000 ton.
CREA mengungkapkan jika seluruh proyek terealisasi, permintaan bahan baku domestik bakal meroket dari 14 juta menjadi sekitar 65 juta ton bijih bauksit setiap tahun.
Dengan skenario tersebut, CREA meramal cadangan bauksit terbukti Indonesia yang saat ini mencapai 1 miliar ton berisiko habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.
“Risiko ini diperparah oleh ketergantungan yang sangat besar pada investasi asing terutama dari China, serta dominasi tenaga kerja kontrak,” ungkap Analis Industri CREA Syahdiva Moezbar, dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom.
Adapun, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi bijih bauksit sepanjang 2025 mencapai 33,75 juta.
Tahun ini, dalam rencana kerja strategis (renstra) Kementerian ESDM, produksi bijih bauksit ditarget sebesar 22,64 juta ton.
(azr/wdh)




























