Logo Bloomberg Technoz

Serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia turut memperparah kelangkaan pasokan di pasar.

"Menggantikan pasokan yang berasal dari kawasan Teluk tidak akan pernah mudah," ujar Shaikh Khaled Al Sabah, Direktur Pelaksana Pemasaran Internasional Kuwait Petroleum Corp, dalam Asia Pacific Petroleum Conference yang diselenggarakan oleh S&P Global Energy di Singapura.

Selisih harga solar di atas harga minyak mentah. (Bloomberg)

Menurut para trader di konferensi Singapura tersebut, salah satu alasan lambatnya pemulihan pengiriman bahan bakar dari kawasan ini adalah sulitnya menemukan kapal tanker untuk memuat kargo.

Beberapa pemilik kapal bersedia mengangkut minyak mentah melalui Selat Hormuz meski ada risiko serangan, karena lonjakan tarif angkut untuk kapal tanker raksasa (supertanker) membuat pelayaran tersebut menguntungkan.

Namun, produk-produk minyak biasanya diangkut menggunakan kapal lebih kecil, sehingga memerlukan lebih banyak perjalanan dan membuat kapal-kapal tersebut terpapar risiko lebih besar. 

Meski lebih dikenal karena produksi minyak mentah yang melimpah, negara-negara di kawasan Teluk juga merupakan pusat penyulingan minyak yang besar; Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan Timur Tengah menyumbang sekitar 10% dari total produk minyak dunia pada tahun lalu.

Perang yang kini telah memasuki bulan ketujuh tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah kilang, sehingga memangkas kapasitas pengolahan bahan bakar, tepat ketika penutupan hampir total Selat Hormuz mengganggu pengiriman energi secara keseluruhan.

Beberapa kilang ini kini secara bertahap mulai beroperasi kembali. Menurut IIR Energy, sekitar 1,6 juta barel per hari dari total kapasitas regional masih ditutup hingga akhir bulan lalu. IEA memperkirakan hampir 3 juta barel per hari sempat ditutup pada suatu titik selama perang akibat serangan dan ketiadaan opsi ekspor.

IIR memperkirakan sekitar seperempat kapasitas kilang utama Al Zour milik Kuwait—sempat menjadi sasaran serangan selama konflik—telah kembali beroperasi.

Shaikh Khaled dari KPC menyatakan negara tersebut, yang sejak lama menjadi salah satu pemasok utama bahan bakar distilat menengah (seperti solar) ke Eropa, sedang meningkatkan operasi kilang guna mendongkrak ekspor bahan bakar.

Sementara itu, menurut pihak-pihak yang mengetahui operasi perusahaan, Bahrain telah mulai melakukan ekspor dari kilang tunggalnya, setelah dalam beberapa minggu terakhir sebagian besar produksinya hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Arus produk minyak yang melewati Selat Hormuz capai total lebih dari 1 juta barel per hari pada Agustus. (Bloomberg)

Menurut dua sumber yang mengetahui operasi perusahaan, Saudi Aramco mengekspor sekitar 500.000 barel produk minyak per hari, meski sebagian besar dikirim dari kilang-kilang di pesisir Laut Merah. 

Sejauh ini, perusahaan hanya mengekspor sedikit bahan bakar dari titik ekspor utamanya di Ras Tanura (Teluk Persia) karena masih sulit mendapatkan kapal tanker yang bersedia melayani rute tersebut.

Ekspor Kerajaan juga menghadapi tekanan akibat ancaman dari Houthi Yaman di Laut Merah. Menurut sumber yang mengetahui situasinya, kilang Jazan milik Aramco yang berkapasitas 400.000 barel per hari menghentikan operasinya setelah serangan pada Juli dan belum beroperasi kembali. 

Houthi mengklaim telah melancarkan serangan lain terhadap fasilitas tersebut minggu ini. Serangan tersebut tidak menimbulkan kerusakan tambahan yang signifikan, kata sumber-sumber tersebut.

Bapco dari Bahrain menyatakan bahwa mereka "tidak memberikan komentar mengenai pengiriman, rute, volume, atau informasi sensitif lainnya yang berkaitan dengan perdagangan." Aramco tidak menanggapi permintaan komentar.

(bbn)

No more pages