Logo Bloomberg Technoz

Bisnis Emas

Pada saat yang sama, Antam melihat sejumlah katalis dari pengembangan bisnis ke depan. Salah satunya berasal dari bisnis emas yang saat ini menjadi kontributor terbesar pendapatan perseroan.

Pada semester I-2026, volume penjualan emas Antam mencapai 18,1 ton dengan kontribusi pendapatan Rp50,1 triliun atau sekitar 80% dari total pendapatan perseroan.

Arini mengatakan Atam akan memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin pasar logam mulia—yang memegang kue pasar di atas 60% — didukung kekuatan jenama dan kepercayaan masyarakat maupun pembeli.

"Jadi kami ingin menggunakan momentum ini untuk tumbuh lebih besar lagi, menaikkan kapasitas manufacturing kami dari 30 ton menjadi another 30 atau 40 ton," ujarnya.

Antam saat ini sedang mempersiapkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan proyeksi kapasitas sekitar 30—40 ton per tahun. 

Penambahan kapasitas tersebut diharapkan dapat menangkap tren permintaan emas domestik yang dinilai masih signifikan sekaligus memperkuat posisi Logam Mulia sebagai brand utama produk emas investasi di Indonesia.

Nikel dan Bauksit

Selain emas, proyek yang digadang menjadi katalis pertumbuhan Antam berasal dari hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Arini mengatakan perseroan bekerja sama dengan sejumlah mitra dan berada dalam satu payung bersama Indonesia Battery Corporation (IBC).

Perseroan juga melihat peluang pertumbuhan dari penguatan hilirisasi bauksit dan alumina bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). 

Dalam kaitan itu, perseroan telah memiliki rantai bisnis bauksit dan fasilitas chemical grade alumina di Tayan melalui PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), serta terlibat dalam proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah bersama Inalum.

Sebagai bagian dari holding MIND ID, Antam juga memiliki posisi strategis dalam ekosistem pertambangan Indonesia yang makin terintegrasi.

Menurut Arini, kondisi tersebut membuka peluang sinergi dalam pengembangan berbagai proyek strategis.

"Bagi kami, yang paling penting adalah memastikan pertumbuhan ini dapat diterjemahkan menjadi real value creation dan juga nanti return yang berkelanjutan bagi pemegang saham kami," kata Arini.

Dengan demikian, perseroan tidak hanya mengandalkan pertumbuhan bisnis eksisting, tetapi juga menyiapkan sejumlah sumber pertumbuhan baru melalui penguatan kapasitas emas dan agenda hilirisasi di berbagai komoditas.

Antam sebelumnya mencatatkan pendapatan sekitar Rp63 triliun dan laba bersih Rp6,9 triliun pada semester I-2026.

Manajemen menilai fundamental perseroan masih kuat untuk menjaga kinerja ke depan dengan mengoptimalkan penjualan, efisiensi biaya, dan arus kas.

(wdh)

No more pages