Logo Bloomberg Technoz

Pejabat senior Iran itu mengatakan negaranya telah membangun kembali kemampuan militernya sejak periode paling intens dalam perang berakhir pada April dan memiliki cukup rudal untuk menghadapi konflik berkepanjangan.

Serangan balasan antara kedua pihak telah mendorong harga energi naik, dengan minyak mentah Brent menembus US$100 per barel pada Rabu dan memperpanjang kenaikannya sepanjang tahun ini menjadi sekitar 65%. Harga solar di SPBU AS mencapai rekor tertinggi pekan lalu, menambah tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri konflik yang tidak populer di kalangan pemilih menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November.

Banyak pemimpin Iran “percaya bahwa pemerintahan Trump hanya merespons ancaman dan eskalasi,” tulis Dina Esfandiary dari Bloomberg Economics. “Mereka juga menilai pemerintahan tersebut lebih sensitif terhadap eskalasi perang menjelang pemilihan paruh waktu.”

Pekan ini, kepala keamanan baru Iran, Mohsen Rezaee, mengatakan sikap militer negaranya terhadap kapal dan pangkalan AS telah “dikalibrasi ulang secara mendasar”, yang menandakan sikap lebih agresif.

Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen sekaligus negosiator utama Iran dengan AS dalam pembicaraan gencatan senjata sebelumnya, memperingatkan bahwa era “respons yang proporsional” telah berakhir.

Sebelumnya pada Rabu, kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan terdengar ledakan di lepas pantai Jask, dekat Selat Hormuz, sekitar pukul 19.20 waktu setempat. Seorang pejabat AS mengatakan militer AS tidak bertanggung jawab atas ledakan yang dilaporkan tersebut.

Perang yang meletus ketika AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari itu kini memasuki semacam kebuntuan, dengan kedua pihak berupaya menguasai Selat Hormuz. Tidak ada perundingan damai resmi selama berbulan-bulan dan hanya sedikit tanda bahwa kedua pihak akan kembali ke meja perundingan.

AS, yang khawatir harga bahan bakar akan semakin naik dan telah menghabiskan sebagian besar rudal pencegatnya, berusaha menghindari kembali ke pertempuran skala penuh seperti pada Maret dan awal April. Sebagai gantinya, AS berupaya menekan ekonomi Iran melalui blokade dan ancaman untuk menjatuhkan sanksi kepada pemerintah serta perusahaan yang tidak memutus hubungan dengan Teheran.

Tujuannya adalah memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan negosiasi untuk mengakhiri konflik.

Iran tetap bersikeras memiliki hak untuk mengatur lalu lintas melalui jalur perairan vital tersebut dan secara rutin menargetkan kapal yang melintas tanpa izinnya. Hal itu memaksa AS merespons secara militer dan meningkatkan risiko terjadinya spiral eskalasi.

Blokade tersebut telah merugikan ekonomi Iran. Dengan Teheran hampir tidak mampu mengekspor minyak dan mengimpor berbagai barang vital, inflasi melonjak hingga hampir 90% dan nilai rial terus merosot tajam. Tekanan ekonomi memicu protes massal pada akhir tahun lalu, yang kemudian direspons dengan tindakan keras oleh pemerintah hingga menewaskan ribuan orang.

Pejabat Iran tersebut mengakui tekanan ekonomi yang semakin memburuk. Meski demikian, ia mengatakan para pemimpin negara itu meyakini mereka tidak memiliki banyak pilihan selain terus bertempur sampai yakin Washington akan terlalu berhati-hati untuk kembali menyerang di masa depan.

Sejumlah pejabat Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, mengatakan negaranya perlu bernegosiasi dengan AS untuk meredakan tekanan ekonomi. Namun, mereka juga menegaskan Gedung Putih harus terlebih dahulu mencabut blokade dan kembali pada ketentuan dalam apa yang disebut nota kesepahaman, kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Juni tetapi dengan cepat runtuh.

“Elite politik terjebak dalam perdebatan mengenai apakah harus meningkatkan eskalasi atau sekadar bertahan,” kata Esfandiary. “Terlepas dari perdebatan itu, Iran sedang menentukan cara untuk membalas dengan lebih cepat dan efisien, yang menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan sejumlah pilihan respons terhadap eskalasi AS. Iran berupaya menimbulkan biaya yang lebih besar bagi AS.”

(bbn)

No more pages