Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham yang melemah dan menjadi top losers antara lain saham PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) yang jatuh 10,6%, PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) amblas 9,88%, dan saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) ambruk 9,62%.

Pada penutupan perdagangan hari Ini, Rabu (9/9/2026) Bursa Asia didominasi tekanan, SENSEX (India), memimpin pelemahan dengan terpeleset paling dalam, menyusul Straits Time (Singapura), SETI (Thailand), NIKKEI 225 (Jepang), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Hang Seng (Hong Kong), TOPIX (Jepang), Shenzhen Comp. (China), dan KLCI (Malaysia), yang masing–masing melemah mencapai 1,08%, 0,66%, 0,25%, 0,19%, 0,18%, 0,17%, 0,09%, 0,03%, dan 0,01%.

Hanya KOSPI (Korea Selatan), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), PSEi (Filipina), dan TW Weighted Index (Taiwan), yang berhasil ditutup menguat 1,41%, 0,31%, 0,28%, 0,17%, dan 0,16%.

Melemahnya sejumlah Bursa Saham Asia terimbas konflik Timur Tengah yang terus memanas. Eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) vs. Iran memasuki bulan ketujuh tanpa ada tanda–tanda mereda. 

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, di tengah kecamuk tersebut, Komando Pusat (Central Command) AS menyatakan militer AS telah menghancurkan lima kapal tanker Iran yang mengangkut minyak mentah sebagai balasan atas upaya serangan rudal balistik terhadap kapal perang Angkatan Laut AS pada malam sebelumnya.

Terlebih lagi, dalam laporan terpisah, Fox News menyebut AS menyerang target di dekat Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak mentah Iran. Serangan tersebut meningkatkan eskalasi permusuhan dan memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih parah melalui Selat Hormuz.

Target serangan tersebut termasuk kapal tanker minyak Iran, kata seorang reporter Fox News dalam unggahan di X dengan mengutip pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya. Reporter tersebut menyebut serangan itu sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memaksa Teheran menyerah. Iran merespons dengan memberikan peringatan kepada kapal-kapal di Teluk Persia.

Lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi akibat gangguan pengiriman, serta memanasnya konflik tersebut, menjadi penyebab utama bergugurannya IHSG dan Bursa Saham Asia.

Ditambah bila inflasi terus merangsek naik, kondisi ini memperbesar peluang Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan lebih tinggi. 

Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di rentang harga tinggi US$95,46 per barel, setelah melonjak lebih dari 4% point–to–point seperti yang dilihat data Bloomberg sore hari ini. Sementara itu, Brent menembus harga US$100,81 pada perdagangan Rabu (9/9/2026) melejit 4,57% ptp.

Kekhawatiran akan terus berlanjutnya gangguan pasokan bahan energi akibat konflik di Selat Hormuz telah memicu spekulasi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan minggu depan, yang dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September 2026.

“Pasar memperkirakan adanya 60% peluang untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve bulan ini, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan sehari sebelumnya,” mengutip catatan terbaru Phillip Sekuritas Indonesia.

Secara teknikal, menyitir Phintraco Sekuritas, IHSG masih bertahan di atas level MA–5. Indikator Stochastic RSI berpotensi membentuk golden cross di area pivot. Namun terjadi sedikit penyempitan histogram positif MACD. 

“Sehingga diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran 6.600–6.700 pada perdagangan Kamis (10/9/2026),” analisis Phintraco.

Senada, biarpun ditutup melemah, IHSG masih bertahan di atas support MA–5 di level 6.650. Stochastic berpotensi golden cross. 

“Jika IHSG berhasil breakout resistance 6.705 maka berpotensi melanjutkan penguatan menuju resistance 6.877–6.971, sebelum memasuki area 7.000,” terang Panin Sekuritas. Di sisi lain, support MA–50 di level 6.413 diharapkan mampu menopang pergerakan IHSG.

(fad/wep)

No more pages