"Kami dapat memasok semua pelanggan kami, tetapi volume untuk sebagian pelanggan tidak sama seperti sebelumnya," ujar Shaikh Khaled dalam Asia Pacific Petroleum Conference yang diselenggarakan oleh S&P Global Energy di Singapura.
Pembeli harus membayar lebih mahal agar KPC dapat mengirim minyak mentah di luar Selat Hormuz guna mengompensasi risiko transit, sementara pembeli yang mengambil kargo di dalam Teluk Persia akan mendapatkan diskon, tambahnya.
Estimasi mengenai volume arus harian melalui Selat Hormuz bervariasi. CEO Vitol Group, Russell Hardy, memperkirakan angka tersebut di kisaran 10 juta barel—termasuk 9 juta barel minyak mentah—sementara Macquarie Group Ltd memperkirakan volume sebesar 7 juta barel per hari untuk minyak mentah dan bahan bakar olahan.
Angka tersebut masih kurang dari separuh volume 20 juta barel per hari yang melintasi jalur perairan itu sebelum perang pecah.
Pengiriman tetap berlanjut meski ketegangan baru antara AS dan Iran mengakhiri periode ketenangan relatif, sehingga memicu ancaman gangguan baru terhadap aliran energi melalui selat tersebut.
Pengendalian Selat Hormuz tetap menjadi titik perselisihan utama. Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk mengelola lalu lintas kapal melalui selat tersebut akan segera tercapai.
Kuwait juga berencana meningkatkan kapasitas pengolahan kilang untuk meningkatkan pasokan bahan bakar karena pasar untuk produk-produk seperti solar tetap ketat, kata Shaikh Khaled.
Di tengah kebuntuan antara Washington dan Teheran, produsen di Teluk Persia mencari cara untuk mengirim minyak ke pelanggan melalui salah satu koridor energi terpenting di dunia.
Metode transfer antar-kapal, yang disebut "shuttle trade", semakin populer, sementara produsen juga menjajaki penggunaan jalur pipa yang sepenuhnya menghindari Selat Hormuz.
Kuwait sedang mengevaluasi rute pipa alternatif untuk ekspor minyak mentah, termasuk melalui Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, kata Shaikh Khaled.
(bbn)





























