Logo Bloomberg Technoz

Qatar, yang menyumbang seperlima dari ekspor LNG dunia sebelum perang, praktis telah menghentikan pengiriman sejak salah satu kapal tankernya diserang pada akhir Juli.

Harga gas di Eropa dan Asia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun di tengah serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut dan gangguan yang terus-menerus terhadap ekspor Qatar.

Kembalinya aliran LNG secara lebih luas akan memberikan angin segar, terutama bagi pembeli di Asia Selatan yang sensitif terhadap harga dan sedang kesulitan menghadapi kelangkaan dan pemadaman listrik.

Namun, aliran LNG keluar dari Teluk Persia masih di bawah tingkat sebelum perang, yaitu tiga pengiriman per hari.

Pada Senin, Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman untuk mengelola pelayaran melalui Selat Hormuz akan segera tercapai. Langkah ini masih dicermati oleh para pedagang karena berpotensi memperketat kendali Teheran atas jalur perairan tersebut dan memicu pertanyaan mengenai bagaimana respons AS nantinya.

Bulan lalu, Qatar memperpanjang status force majeure (keadaan kahar) atas pengiriman LNG ke pembeli di Eropa dan Asia hingga Oktober, yang turut menjaga harga tetap tinggi.

Namun, Qatar tetap melanjutkan pemuatan bahan bakar ke kapal tanker kosong yang tersedia di dalam Teluk dan mengekspornya ke Kuwait, sehingga memungkinkan negara tersebut mengelola penyimpanan dan menjaga sebagian kompleks ekspor raksasanya tetap beroperasi pada tingkat minimum.

Mempertahankan sebagian produksi menjaga peralatan tetap beroperasi dan memberikan fleksibilitas kepada perusahaan milik negara QatarEnergy untuk meningkatkan produksi lebih cepat jika ketegangan di jalur perairan tersebut mereda.

(bbn)

No more pages