Berdasarkan pengamatan instrumental, Lana menjelaskan pada 7—8 September 2026 terekam dua kali gempa erupsi, empat kali gempa hembusan, 76 gempa frekuensi rendah, 100 kali gempa hibrida, gempa tremor menerus, 8 kali gempa vulkanik dangkal, dan 9 gempa vulkanik dalam.
Lana mengungkapkan energi aktivitas vulkanik dicerminkan dari nilai perataan amplitudo real time seismic amplitude measurement (SRAM) yang mengalami peningkatan pada 5 September 2026 tetapi menurun pada 6 September 2026.
“Data tiltmeter Stasiun Tanjung dan Lava93 memperlihatkan kecenderungan memperlihatkan pola mendatar sebagai indikasi konstan, tidak adanya peningkatan ataupun penurunan,” ungkap Lana.
Sementara berdasarkan pengamatan visual, pada 7–9 September 2026 Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut. Cuaca juga terbilang cerah hingga mendung, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.
“Suhu udara sekitar 26°—31° C. Pengamatan visual dan CCTV memperlihatkan terjadinya erupsi dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati,” tambah Lana.
Siaga Level III
Lana mengungkapkan, berdasarkan hasil analisis dan evaluasi hingga September 2026, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dikategorikan pada level III atau siaga.
Dia merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau agar tidak melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer (km) dari pusat akvitias.
Selain itu, ia merekomendasikan masyarakat yang terdampak abu vulkanik hasil erupsi untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas.
Kemudian, mengimbau masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung untuk tetap tenang dengan tetap mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
“Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat,” imbau Lana.
Sekadar catatan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat adanya dua erupsi dari Gunung Anak Krakatau pada hari ini, Selasa (8/9/2026) pagi.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 8 September 2026 pukul 05.08 WIB. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 15 detik. Meski demikian, visual letusan tidak teramati.
Erupsi kedua kembali terjadi pada 05.34 WIB. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 44 mm dan durasi 10 detik.
(azr/wdh)































