Logo Bloomberg Technoz

Penurunan margin dipengaruhi meningkatnya kontribusi bisnis telekomunikasi ritel yang secara struktural memiliki margin lebih rendah dibandingkan proyek infrastruktur, namun menawarkan pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Shannedy menuturkan margin EBITDA WIFI cenderung berada di atas kompetitor lantaran mendorong bisnis model yang berbeda.

“Dari sisi go to market kita juga merubah total, dari sisi network planning and design kita juga ubah total, dan yang terakhir itu dar isisi streamliing organisation di mana kita sudah adopsi artificial intelligence,” tuturnya.

Margin EBITDA itu diperkirakan akan terbebani seluruh biaya yang mungkin muncul dari target pemasangan jaringan 3,5 juta home passes, 5.500 FWA sites dan susbscriber lebih dari 3 juta pelanggan.

“Kita akan melakukan investasi dan juga capex investment ke semua lini bisnis kita,” kata dia.

Kontributor WIFI

WIFI mencetak pendapatan sebesar Rrp1,57 triliun sepanjang paruh pertama tahun ini, meningkatkan 206% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan itu ditopang oleh monetisasi aset yang telah dibangun perseroan.

Segmen telekomunikasi menyumbang Rp1,28 triliun atau meningkat 357% secara ta tahunan.  Segmen ini menyumbang 82% dari total pendapatan perseroan, meningkat dari sekitar 55% pada Semester I 2025.

Kinerja tersebut didukung oleh basis pelanggan Home Connect Fiber-to-the-Home (FTTH) yang mencapai 1,85 juta pelanggan serta peluncuran komersial layanan HomeConnect Fixed Wireless Access (FWA) pada akhir Februari 2026.

Pada sisi operasional, layanan HomeConnect FTTH mencatat 1,85 juta pelanggan atau meningkat 377% YoY.

Belakangan, WIFI meluncurkan layanan fixed broadband Starlite Prime dan Starlite Super. Produk Starlite Super menawarkan kecepatan hingga 2 Gbps berbasis teknologi XGS-PON dan Wi-Fi 7 dengan harga Rp250.000 per bulan.

(red)

No more pages