Logo Bloomberg Technoz

“Karena abu bersifat abrasif, prinsip terpenting justru menghindari menggosok partikel kering di permukaan kulit,” ujar dr. Anesia.

Jika abu terlihat menumpuk di wajah, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membilasnya menggunakan air. Cara tersebut membantu mengangkat sebagian besar partikel tanpa memberikan banyak gesekan pada permukaan kulit.

Setelah sebagian abu terangkat, wajah dapat dibersihkan menggunakan gentle facial cleanser dengan air suam-suam kuku. Pembersihan sebaiknya dilakukan secara lembut dan tidak berlebihan.

Beberapa produk atau cara pembersihan yang sebaiknya dihindari ketika wajah sedang terpapar abu vulkanik antara lain:

  1. Facial scrub yang memiliki butiran penggosok.

  2. Cleansing brush yang memberikan gesekan pada kulit.

  3. Penggunaan kapas dengan tekanan atau gosokan kuat.

  4. Exfoliating cleanser yang berpotensi memperparah iritasi.

Setelah mencuci wajah, kulit sebaiknya dikeringkan dengan cara ditepuk secara perlahan. Penggunaan moisturizer kemudian dapat membantu menjaga kelembapan kulit dan mendukung kondisi skin barrier.

Perlukah Double Cleansing Setelah Terpapar Abu?

Paparan abu vulkanik tidak selalu membuat seseorang harus melakukan double cleansing. Metode pembersihan tersebut lebih diperlukan dalam kondisi tertentu, terutama bagi orang yang menggunakan makeup cukup berat atau sunscreen dengan formula water-resistant.

Menurut dr. Anesia, double cleansing tetap diperbolehkan selama memang ada kebutuhan untuk mengangkat produk yang sulit dibersihkan dengan satu kali pembersihan.

“Double cleansing boleh dilakukan kalau memang menggunakan makeup berat atau sunscreen yang water-resistant. Tetapi kalau hanya terkena abu dan tidak memakai makeup berat, gentle cleanser satu kali biasanya sudah cukup,” kata dr. Anesia.

Sebaliknya, membersihkan wajah berulang kali tanpa kebutuhan justru dapat meningkatkan gesekan pada kulit. Kondisi ini berpotensi memperburuk iritasi, terutama bagi pemilik kulit sensitif atau orang yang sedang mengalami eczema.

Karena itu, pembersihan wajah setelah aktivitas di luar ruangan sebaiknya dilakukan secukupnya. Tujuannya bukan membuat kulit terasa sangat kesat, melainkan memastikan partikel abu terangkat tanpa merusak lapisan pelindung kulit.

Skincare Sebaiknya Dibuat Lebih Sederhana

Paparan abu vulkanik juga tidak berarti seluruh rutinitas skincare harus langsung dihentikan. Jika kulit masih terasa normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda iritasi, produk yang selama ini cocok masih dapat digunakan.

Namun, kondisi kulit perlu diperhatikan setelah terpapar abu. Beberapa tanda yang menunjukkan kulit mulai mengalami iritasi antara lain:

  • Kemerahan atau erythema.

  • Sensasi burning atau terbakar.

  • Kulit terasa tight atau tertarik.

  • Kulit menjadi sangat kering.

  • Muncul scaling atau pengelupasan.

Jika tanda tersebut mulai muncul, rutinitas skincare sebaiknya untuk sementara dibuat lebih sederhana.

“Kalau paparan cukup berat atau sudah muncul keluhan burning, tightness, erythema, atau scaling, sebaiknya menyederhanakan skin care sementara menjadi gentle cleanser, moisturizer, dan sunscreen,” ujar dr. Anesia.

Moisturizer dengan kandungan humektan maupun bahan yang mendukung skin barrier dapat menjadi pilihan. Sementara itu, sejumlah bahan aktif yang berpotensi menambah iritasi dapat dikurangi atau dihentikan sementara apabila kulit mulai menunjukkan sensitivitas.

Bahan atau produk yang perlu dipertimbangkan untuk dikurangi sementara meliputi:

  1. Retinoid.

  2. AHA atau BHA.

  3. Facial scrub.

  4. Benzoyl peroxide.

  5. Vitamin C dengan formulasi yang sangat asam.

Menurut dr. Anesia, kondisi lingkungan yang tidak biasa bukan waktu yang tepat untuk bereksperimen dengan banyak produk skincare baru. Rutinitas yang lebih sederhana juga membuat perubahan kondisi kulit lebih mudah diamati.

Makeup Tetap Boleh Digunakan

Penggunaan makeup tidak secara otomatis membuat paparan abu vulkanik menjadi lebih berbahaya bagi kulit. Tidak ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa makeup secara khusus membuat abu menempel atau menjadi lebih berbahaya.

“Tidak ada bukti klinis bahwa makeup secara khusus ‘menarik’ volcanic ash atau membuat abu otomatis menjadi lebih berbahaya bagi kulit,” jelas dr. Anesia.

Meski demikian, kombinasi makeup dengan sebum, keringat, masker, serta partikel lingkungan dapat membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi. Pada orang yang rentan, kondisi tersebut juga dapat memicu breakout.

Masyarakat tetap dapat menggunakan makeup apabila diperlukan. Namun, selama kondisi udara masih dipenuhi abu vulkanik, penggunaan produk yang sudah terbukti cocok dengan kulit lebih disarankan dibandingkan mencoba kosmetik baru.

Riasan yang lebih ringan juga dapat menjadi pilihan agar proses pembersihan setelah beraktivitas di luar ruangan tidak membutuhkan terlalu banyak tahapan.

Bagi perempuan dengan eczema yang sedang mengalami flare atau kondisi kulit yang sudah merah dan terasa perih, kosmetik yang tidak diperlukan sebaiknya dihentikan sementara. Penggunaan sunscreen tetap penting untuk membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet.

Jangan Lupakan Rambut dan Kulit Kepala

Ilustrasi rambut berketombe (Envato)

Abu vulkanik tidak hanya dapat menempel pada wajah dan tubuh. Rambut serta kulit kepala juga dapat menjadi tempat menumpuknya partikel ketika seseorang beraktivitas di luar ruangan saat terjadi sebaran abu.

Bukti klinis mengenai dampak khusus abu vulkanik terhadap penyakit kulit kepala memang masih terbatas. Namun, sifat abrasif dari partikel tersebut membuat abu sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk atau digosok ketika masih berada di kulit kepala.

Dr. Anesia menyarankan proses pembersihan dilakukan secara bertahap setelah seseorang kembali dari luar ruangan.

“Setelah pulang dari aktivitas outdoor dengan paparan cukup banyak, hindari menggaruk scalp yang masih penuh abu. Bilas rambut terlebih dahulu dengan air, kemudian keramas menggunakan shampoo biasa yang gentle,” kata dr. Anesia.

Rambut sebaiknya terlebih dahulu dibilas dengan air untuk membantu mengangkat partikel abu. Setelah itu, gunakan sampo biasa yang lembut dan pastikan seluruh material vulkanik telah terbilas.

Jika batang rambut terasa kasar atau kering setelah proses pembersihan, conditioner dapat digunakan. Sebaliknya, penggunaan clarifying shampoo berulang kali untuk melakukan "detoks abu" tidak diperlukan.

Pembersihan yang terlalu agresif justru dapat membuat kulit kepala terasa semakin tidak nyaman. Prinsip yang sama berlaku pada kulit wajah dan tubuh, yaitu mengutamakan pembersihan yang cukup tanpa memberikan gesekan berlebihan.

Dengan masih berlangsungnya erupsi Gunung Anak Krakatau dan adanya sebaran abu ke sejumlah wilayah, masyarakat perlu memperhatikan perlindungan kulit ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Menghindari paparan langsung, membersihkan partikel secara lembut, serta mempertahankan skin barrier menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko iritasi.

Kulit yang sudah menunjukkan keluhan juga sebaiknya tidak dipaksa kembali menggunakan banyak produk aktif. Semakin sederhana rutinitas perawatan selama kondisi kulit sensitif, semakin mudah pula memantau apakah keluhan membaik atau justru semakin parah.

(seo)

No more pages