Logo Bloomberg Technoz

Abu vulkanik terbentuk dari proses erupsi gunung berapi. Material tersebut berasal dari proses geologi eksplosif yang menghasilkan partikel dengan karakteristik, komposisi, dan kandungan kimia yang berbeda dari debu biasa.

Perbedaan tersebut juga dibahas dalam jurnal "Physicochemical Properties and Bioreactivity of Sub-10 μm Geogenic Particles: Comparison of Volcanic Ash and Desert Dust" yang diterbitkan pada 2025 dan ditulis Tomašek dkk.

Material vulkanik dapat memiliki permukaan partikel yang tajam. Ketika masuk melalui saluran pernapasan, partikel tersebut berpotensi mengiritasi bagian tubuh yang dilewatinya.

Paparan melalui mata juga dapat menyebabkan sejumlah gangguan. Mata dapat menjadi berair, memerah, terasa pedih, atau mengalami iritasi akibat partikel abu yang masuk ke permukaannya.

Sementara itu, abu yang mengenai kulit dapat menyebabkan rasa perih dan iritasi. Paparan dalam intensitas yang sering perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan.

Kondisi tersebut membuat abu vulkanik tidak dapat diperlakukan sama seperti debu rumah tangga. Debu biasa memang tetap dapat mengganggu kesehatan, tetapi karakteristik material vulkanik membuat penanganannya membutuhkan perhatian lebih.

Selain berdampak terhadap manusia, abu vulkanik juga dapat memengaruhi lingkungan di sekitar gunung yang sedang mengalami erupsi. Material yang masih membawa panas dapat menyebabkan tumbuhan mengalami kerusakan hingga mengering dan mati.

Cara Membersihkan Abu Vulkanik dari Tubuh dan Rumah

Ilustrasi Asisten Rumah Tangga (Envato)

Ketika wilayah tempat tinggal mulai terdampak abu vulkanik, pembersihan perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Kesalahan saat membersihkan justru dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.

Masyarakat yang baru selesai melakukan aktivitas di luar ruangan ketika terjadi hujan abu dianjurkan segera membersihkan tubuh. Mandi dapat dilakukan setelah kembali ke tempat yang aman untuk menghilangkan partikel yang menempel pada tubuh.

Untuk membersihkan bagian dalam rumah, abu tidak sebaiknya langsung disapu atau dilap dalam keadaan kering. Pembersihan secara perlahan menggunakan kain lembap dapat membantu mencegah abu kembali beterbangan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran abu di dalam rumah antara lain:

  1. Tutup pintu dan jendela secara rapat selama kondisi di luar masih dipenuhi abu.

  2. Tutup ventilasi dan celah yang memungkinkan udara dari luar masuk. Selotip, terpal, atau gulungan handuk dapat digunakan untuk membantu menutup celah tersebut.

  3. Gunakan satu pintu sebagai akses utama keluar dan masuk rumah agar paparan dari luar dapat diminimalkan.

  4. Tinggalkan pakaian dan sepatu yang terkena abu di luar rumah sebelum masuk ke ruangan yang bersih.

  5. Jangan menggunakan peralatan rumah tangga yang mengambil udara dari luar, termasuk pendingin ruangan atau AC, selama kondisi tersebut memungkinkan abu masuk ke dalam rumah.

  6. Jika abu sudah masuk ke dalam rumah, bersihkan secara perlahan menggunakan kain lembap.

  7. Hindari menggunakan sapu atau penyedot debu karena metode tersebut dapat membuat partikel abu kembali beterbangan di dalam ruangan.

Selain membersihkan tubuh dan rumah, perlindungan saat harus keluar ruangan juga perlu menjadi perhatian. Masyarakat dapat menggunakan pakaian yang menutupi tubuh untuk mengurangi kontak langsung dengan abu.

Masker dengan kemampuan menyaring partikel halus, seperti N95, dapat digunakan untuk memberikan perlindungan pada hidung dan mulut. Masker tersebut perlu terpasang dengan rapat agar perlindungan terhadap paparan abu lebih optimal.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan kacamata pelindung ketika harus berada di luar ruangan. Perlindungan mata penting karena partikel abu dapat menyebabkan iritasi ketika masuk ke permukaan mata.

"Jangan lupa karena ini adalah debu silika yang tajam jadi gunakan pelindung mata dengan kacamata ataupun bisa kacamata. Kalau mata teriritasi, segera bilas dengan air bersih," ucap Dicky Budiman.

Apabila mata terkena abu, masyarakat tidak dianjurkan menggosoknya. Mata sebaiknya segera dibilas menggunakan air bersih secara perlahan untuk membantu menghilangkan partikel yang menempel.

Kelompok Rentan Perlu Mendapat Perhatian

Menghindari paparan abu vulkanik menjadi langkah penting, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan akibat kualitas udara. Lansia, bayi, anak-anak, penderita gangguan pernapasan, serta ibu hamil perlu mendapatkan perhatian lebih selama kondisi berlangsung.

Jika memungkinkan, aktivitas sebaiknya dilakukan dari dalam ruangan. Namun, masyarakat yang memilih tetap berada di rumah perlu memastikan tempat tinggalnya berada dalam area aman yang ditetapkan pemerintah setempat dari potensi bahaya erupsi lainnya.

Apabila harus berada di dalam ruangan dalam waktu lama, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kondisi lingkungan tetap aman.

  1. Periksa suhu di dalam rumah secara berkala. Jika suhu menjadi terlalu panas, pertimbangkan untuk mencari tempat perlindungan lain yang lebih aman.

  2. Hindari penggunaan peralatan memasak, pemanas, atau perangkat lain yang dapat menghasilkan asap di dalam ruangan.

  3. Jangan merokok selama berada di dalam ruangan.

  4. Hindari penggunaan alat pembakar tanpa saluran pembuangan, seperti pemanggang, karena dapat meningkatkan risiko keracunan karbon monoksida.

Sementara itu, jika keadaan mengharuskan masyarakat keluar rumah, perlindungan pernapasan dan tubuh perlu digunakan. Masker bersertifikasi industri, seperti N95, menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengurangi masuknya partikel abu ke saluran pernapasan.

Kacamata pelindung dan pakaian tertutup juga dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan. Langkah tersebut penting untuk mengurangi kontak langsung abu vulkanik dengan mata dan kulit.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan penyebaran abu ke sejumlah wilayah menjadi pengingat bahwa material vulkanik perlu ditangani secara berbeda dari debu biasa. Partikelnya yang halus dan karakteristiknya yang tajam dapat menimbulkan risiko apabila terhirup atau mengenai tubuh.

Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak perlu mengutamakan keselamatan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan perlindungan yang sesuai, serta menjaga agar abu tidak menyebar ke dalam rumah.

Informasi mengenai kondisi erupsi dan potensi dampaknya juga sebaiknya terus dipantau melalui sumber resmi. Dengan memahami karakter abu vulkanik dan mengetahui cara menghadapinya, risiko paparan terhadap masyarakat dapat ditekan.

(seo)

No more pages