Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan lapangan kerja terkonsentrasi di luar kelompok usia prima (prime-age workforce). Jumlah pekerja berusia 55 tahun ke atas justru meningkat sekitar 350 ribu, sementara pekerja yang lebih muda juga bertambah. Jumlah pekerja berusia 25-54 tahun relatif tidak berubah.

Untuk diketahui, sektor informasi kehilangan 23 ribu pekerjaan pada Agustus. Penurunan tersebut datang dari penyedia infrastruktur komputasi, pemrosesan data, web hosting, dan layanan terkait yang berkurang sekitar 8 ribu pekerjaan. Sedangkan, industri penerbitan kehilangan 7 ribu pekerjaan, dan penyedia penyiaraan dan konten kehilangan 5 ribu lapangan kerja.

"Kemungkinan berkaitan dengan tekanan terhadap penciptaan lapangan kerja akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI)," sebut Wong dalam catatannya. 

Kemajuan Teknologi Memangkas Pekerjaan di AS? 

Perkembangan ekonomi digital dan investasi pada pusat data, serta komputasi dan kecerdasan buatan yang meningkat ternyata tak berbanding lurus dengan terbukanya lapangan kerja secara masif di sektor ini. 

Tak heran, sebab AI dan otomatisasi punya karakter yang berbeda dari gelombang investasi sebelumnya. Perusahaan bisa meningkatkan kapasitas produksi, pemrosesan data, layanan pelanggan, analisis, bahkan pekerjaan administratif dengan menambah investasi pada teknologi tanpa harus menambah jumlah pekerja dalam proporsi yang sama. 

Di saat bersamaan, lapangan kerja di sektor keuangan juga berkurang 11 ribu pekerjaan. Salah satu kemungkinan penyebab berkurangnya pekerjaan di sektor ini adalah tekanan AI terhadap penciptaan lapangan kerja. 

Seperti diketahui, di sektor ini pekerjaan banyak yang berkaitan dengan pemrosesan informasi, analisis data, dokumentasi, verifikasi, administrasi, compliance atau kepatuhan, hingga layanan pelanggan. Sebagian dari fungsi tersebut memiliki karakter yang relatif mudah diotomatisasi atau ditingkatkan produktivitasnya menggunakan AI. 

Bagaimana di Asia? 

Terbatasnya lapangan kerja juga tak cuma terjadi di AS, tetapi juga di sebagian negara berkembang di kawasan Asia Tenggara.

Contohnya di Indonesia. Lapangan kerja memang bertambah 1,9 juta secara tahunan, akan tetapi dominan di sektor pertanian. Bahkan, di Indonesia terjadi fenomena 'pengangguran terdidik', lantaran banyaknya tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan tinggi yang menganggur. 

Senada di Malaysia, sektor jasa masih menjadi kontributor utama pembukaan lapangan kerja, terutama di sektor transportasi, akomodasi (F&B), dan perdagangan grosir dan ritel.

Meski begitu, Malaysia juga masih mencatat pertumbuhan lapangan kerja di sektor manufaktur dan konstruksi. Sementara, pertanian dan pertambangan mengalami penurunan. 

Namun berbeda dengan China. Data pengangguran perkotaan tercatat 5,2% pada Juli, dengan angka pengangguran muda usia 16-24 tahun berada di 17,9%, naik dari 14,9% pada Juni. Begitu juga dengan tingkat pengangguran kelompok usia 25-29 tahun yang naik 7,2%. Sebaliknya, kelompok usia 30-59 tahun justru turun menjadi 3,9%. 

Sedangkan, di Thailand dan Filipina justru sedang menghadapi tekanan di pasar kerja. Thailand menghadapi pasar kerja yang sangat ketat dengan angka pengangguran sekitar 1%. Filipina juga menghadapi pengangguran yang naik 3,7% secara tahunan dengan underemployment masih tinggi 12,1%. 

Cerita sebaliknya datang dari Singapura yang cenderung ekspansif. Sektor konstruksi dan manufaktur masih jadi penopang tenaga kerja non-residen di negara ini. Total pekerja bertambah 10.700 pada kuartal II-2026. Pertumbuhan pekerjaan non-residen terutama berasal dari konstruksi dan manufaktur, sementara pekerja residen bertambah di layanan esensial dan publik. 

Begitu juga dengan Vietnam, dengan pertumbuhan lapangan kerja 688 ribu secara tahunan menjadi 52,7 juta, ditopang oleh sektor manufaktur/industri dan jasa yang terus menyerap tenaga kerja. Sementara pengangguran hanya 2,23%, dan proporsi pekerja yang memiliki sertifikat atau diploma naik menjadi 29,8%. 

Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Vietnam yang ditopang oleh manufaktur dan pengolahan, sejalan dengan S&P Global Vietnam Manucaturing PMI meningkat menjadi 53,3 pada Agustus, dari 52,9 pada Juli.

Produksi pabrik dan pesanan baru meningkat, dengan pertumbuhan produksi mencapai laju tercepat dalam lebih dari dua tahun, sementara pesanan baru mencatat ekspansi terkuat sejak Oktober tahun lalu. 

Kondisi di Vietnam mengindikasikan bahwa negara ini masih berada pada fase ketika teknologi dan investasi industri masih menciptakan pekerjaan, bukan sebaliknya seperti yang terjadi di AS dan China. 

(dsp/aji)

No more pages