Logo Bloomberg Technoz

“Fokusnya karena itu harus pada kebijakan pasokan dan fiskal. Bank Indonesia perlu mencermati bukan hanya inflasi pangan, tetapi juga efek rambatnya ke inflasi inti. Ketika kenaikan harga bahan pangan mulai masuk ke harga makanan jadi, biaya produksi, dan akhirnya ekspektasi upah, inflasi bisa menjadi lebih persisten,” kata Yusuf.

Menurutnya, saat ini pemerintah sebenarnya sudah melakukan sejumlah langkah, mulai dari menjaga stok beras sekitar 5,25 juta ton, memperkuat pompanisasi dan irigasi, sampai stabilisasi melalui Gerakan Pangan Murah dan SPHP.

“Tantangannya sekarang adalah memastikan intervensi tersebut tepat sasaran. Stok yang tinggi tidak otomatis membuat harga turun jika biaya produksi, logistik, dan distribusi antarwilayah masih tinggi,” kata Yusuf.

Menurutnya, hal ini dibuktikan dari  perkiraan produksi beras Agustus sampai Oktober 2026 yang mencapai 9,33 juta ton, tetapi masih 0,9% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tiga Prioritas Hadapi El Niño

Oleh karenanya, Yusuf menilai bahwa pemerintah perlu melakukan tiga priortas utama untuk menghadapi fenomena tersebut.

“Pertama, intervensi harus disesuaikan dengan kondisi masing masing daerah karena tekanan inflasi antarprovinsi cukup berbeda,” katanya

Kedua, perlindungan daya beli lebih efektif jika diberikan secara tertarget kepada rumah tangga rentan daripada melalui subsidi harga yang manfaatnya bisa dinikmati semua kelompok.

Ketiga, impor perlu digunakan sebagai katup pengaman secara terukur. Jangan sampai impor berlebihan justru menekan harga ketika petani sedang menanggung biaya produksi yang lebih tinggi.

Yusuf menilai, saat ini tekanan El Niño memang masih relatif terkendali dengan Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan sementara inflasi bulanan 0,21% dan inflasi pangan bergejolak sebesar 4,06%.

Namun, ia mewanti-wanti bahwa angka ini belum bisa menjadi alasan untuk merasa aman. BMKG memperkirakan El Niño bertahan hingga setidaknya awal kuartal I 2027, dengan potensi intensitas yang cukup kuat dan diperburuk oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

“Dampak terhadap produksi juga biasanya memiliki jeda waktu. Kekeringan yang terjadi sekarang baru akan terlihat dalam bentuk penurunan luas tanam dan produksi beberapa bulan ke depan. Karena itu, risiko yang lebih besar justru perlu diantisipasi pada akhir 2026 hingga awal 2027,” katanya.

(ell)

No more pages