“Ada kecemasan yang nyata di Eropa, khususnya di wilayah sayap timur, dan juga perasaan eksistensial bahwa mereka berada di bawah ancaman Rusia yang agresif. Jika Ukraina sampai jatuh, negara-negara lain akan menjadi sasaran berikutnya,” kata Martin.
Sebagai respons, Martin mengatakan Eropa harus “berupaya memperkuat ketahanan Eropa, khususnya dalam menghadapi ancaman hibrida yang semakin canggih.”
Saat ini, katanya, “kerangka ekonomi perang” Rusia memungkinkan negara tersebut mempersenjatai kembali militernya lebih cepat daripada Eropa. Namun, Uni Eropa dapat mengatasi hal tersebut dengan bekerja sama dalam pengadaan kebutuhan pertahanan.
“Bermitra dengan negara-negara lain dalam pengadaan sistem bernilai besar dan sistem dengan data yang lebih canggih, menurut saya, masuk akal dan justru mempercepat proses pengadaan,” katanya.
Komponen penting lainnya dalam menghadapi Rusia adalah membawa Ukraina lebih jauh ke dalam Uni Eropa, kata Martin. Pemimpin Irlandia itu berjanji membuka setiap “klaster negosiasi” Ukraina—tahapan yang diperlukan untuk memajukan upaya Kyiv menjadi anggota Uni Eropa—selama enam bulan masa kepemimpinan negaranya atas blok tersebut.
“Saya pikir ini merupakan pesan penting bagi rakyat Ukraina yang sedang menghadapi pengorbanan luar biasa,” katanya.
Langkah tersebut juga akan menjadi sinyal bagi negara-negara yang ingin bergabung dengan Uni Eropa di kawasan Balkan Barat bahwa “jika Anda terus membuat kemajuan dalam berbagai bab, konvergensi dan kesesuaian dengan pasar tunggal Eropa, maka ada peluang di sana.”
Irlandia juga akan memprioritaskan pembahasan aksesi dengan Moldova selama masa kepemimpinannya, tambahnya.
“Mereka layak mendapatkan peluang,” katanya. “Ini akan membutuhkan waktu, tetapi setidaknya mereka perlu tahu bahwa momentumnya ada.”
(bbn)





























