Jika realisasi data tersebut sesuai atau bahkan lebih buruk dari proyeksi, maka ekspektasi terhadap kebijakan higher for longer The Fed berpotensi semakin mereda. Implikasinya, imbal hasil US Treasury dan dolar AS berpeluang kembali tertekan, dan bisa memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk menguat.
Hal itu sudah terlihat pada pergerakan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona hijau. Baht Thailand memimpin penguatan 0,3%, disusul peso Filipina, dolar Taiwan, rupiah, dolar Singapura, yen Jepang, yuan China, serta yuan offshore.
Hanya ringgit Malaysia, won Korea Selatan dan dolar Hong Kong yang melemah, itu pun sangat terbatas.
Namun, penguatan mata uang Asia belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang risiko geopolitik dan harga energi. Harga minyak bergerak tinggi hampir US$96/barel, tertinggi sejak Juli.
Kenaikan harga minyak masih jadi perhatian serius bagi Indonesia, lantaran dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi. Selain itu, defisit transaksi berjalan, dan fiskal kembali membayangi pelaku pasar, terlebih setelah data neraca perdagangan sepanjang Januari-Agustus mencatat adanya defisit minyak dan gas (migas) sebesar US$18,75 miliar.
Angka defisit itu menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tak cuma jadi persoalan inflasi, tetapi juga meningkatkan kebutuhan dolar AS dan menekan keseimbangan eksternal Indonesia.
Di tengah sentimen ini, rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp17.600-17.700/US$ di perdagangan pasar spot hari ini. Jika data ketenagakerjaan AS benar-benar di bawah ekspektasi ekonom, maka ruang penguatan bagi rupiah berpotensi terbuka ke area Rp17.600/US$.
(dsp/aji)





























