Penempatan dana sebagian keuntungan divestasi tambang emas Doup itu dilakukan PT J Resources Netherlands B.V. (JRN), entitas anak PSAB.
Sebelumnya, PSAB berhasil mengamankan dana segar sekitar US$540 juta atau setara dengan Rp8,85 triliun dari divestasi aset eksplorasi tambang emas Doup ke afiliasi Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR).
Transaksi divestasi ke entitas Astra itu rampung pada Februari 2026. Saat itu, PSAB menjual seluruh saham pengelola tambang emas Doup PT Arafura Surya Alam (ASA) ke PT Danusa Tambang Nusantara, anak usaha UNTR.
Mengutip keterbukaan informasi, Manajemen PSAB menjelaskan bahwa keputusan melepas saham ASA berkaitan dengan kondisi Proyek Doup yang berlokasi di Kotabunan, Sulawesi Utara, yang hingga saat ini masih berada pada tahap konstruksi dan membutuhkan investasi signifikan guna penyelesaiannya.
Selain itu, perseroan juga mempertimbangkan posisi pinjaman yang sedang ditanggung. Dengan kebutuhan belanja modal yang besar serta kondisi kewajiban pinjaman tersebut, penjualan saham ASA dinilai sebagai langkah yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
“Dengan adanya transaksi tersebut, perseroan akan mengembangkan aset tambang emas lainnya yang dimiliki oleh Perseroan, namun juga selalu terbuka untuk setiap peluang usaha yang baru,” ujar manajemen.
Selepas divestasi aset tambang eksplorasi itu, PSAB menyetor dividen jumbo ke pemegang saham US$155,53 juta atau sekitar Rp2,78 triliun.
Sebagian besar dividen itu mengalir ke pengendali PSAB Jimmy Budiarto yang menguasai 90% saham perseroan.
Sementara itu, PSAB juga tercatat melakukan pembayaran sebagian utang jumbo selepas mendapat windfall divestasi tambang emas pada paruh pertama tahun ini.
Sekitar US$127 juta dipakai untuk melunasi pinjaman bank jangka panjang dan US$38,2 juta dipakai untuk melunasi seluruh pinjaman ke pihak berelasi yakni PT Bukit Makmur Widya — perusahaan yang dimiliki oleh kerabat Jimmy Budiarto.
Ilusi Laba
PSAB mengakui laba bersih US$177,89 juta atau sekitar Rp3,15 triliun (asumsi kurs Rp17.746 per dolar AS) pada semester I-2026.
Raihan laba bersih itu melonjak 803% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sekitar US$19,7 juta.
Hanya saja, kenaikan laba PSAB itu ditopang oleh keuntungan tidak berulang dari divestasi tambang emas Doup ke entitas Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR).
Mengutip laporan keuangan perseroan, PSAB mencatat keuntungan divestasi proyek tambang emas itu sekitar US$298,6 juta.
Besarnya keuntungan divestasi tersebut membuat laba sebelum pajak PSAB mencapai US$190,25 juta.
Padahal, jika keuntungan divestasi proyek tambang emas itu tidak diperhitungkan, perseroan akan membukukan rugi sebelum pajak sekitar US$108,34 juta.
Situasi itu disebabkan karena PSAB mencatat penghapusan properti pertambangan di Penjom, Malaysia, sebesar US$102,92 juta atau sekitar Rp1,73 triliun.
Nilai tercatat properti pertambangan Penjom turun dari US$119,45 juta pada awal tahun menjadi US$16,53 juta per 30 Juni 2026.
Perseroan juga membentuk cadangan kerugian penurunan nilai properti pertambangan sebesar US$25,02 juta.
Selain itu, PSAB mencatat kerugian penurunan nilai aset tetap sebesar US$59,58 juta serta amortisasi dan penghapusan sebesar US$105,57 juta pada semester I-2026.
Kedua beban tersebut meningkat tajam dibandingkan masing-masing US$3,75 juta dan US$7,54 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, kinerja operasional PSAB menunjukkan perbaikan. Penjualan meningkat 14,5% menjadi US$160,64 juta dari US$140,30 juta, sementara laba kotor melonjak 61,0% menjadi US$141,69 juta dari US$87,99 juta.
(naw)





























