Meski demikian, dampak tersebut masih berada di rentang target pemeritah sehingga dampaknya masih bisa termitigasi.
Selain El Nino, Dian menyebut bahwa peningkatan harga minyak hingga US$80 hingga US$90 per barel menjadi sesuatu yang menurutnya juga harus diantisipasi, terlebih dengan masih tingginya ketidakpastian global.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi pada Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan (year-on-year/yoy). Artinya, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi konsensus yang memperkirakan inflasi Agustus 2026 hanya akan berada di level 3,11% (yoy). Angka itu juga lebih tinggi ketimbang realisasi inflasi pada Juli yang sebesar 2,88%.
Berdasarkan data BPS, IHK pada Agustus mengalami inflasi secara bulanan terhadap Juli 2026, yakni 0,21%. Sementara itu, inflasi dalam perhitungan tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat sebesar 1,86%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebutkan, berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan utamanya didorong oleh tiga kelompok, yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 3,86% dan memberi andil inflasi 1,13%.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, cabai rawit, daging sapi, dan sigaret kretek tangan, sigaret putih mesin, dan cabai merah,” kata Ateng dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
Tamara Mas Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, menyebut inflasi masih berada di rentang target bank sentral di 1,5-3,5%. Dukungan pemerintah melalui berbagai subsidi membantu mengurangi beban rakyat dari kenaikan harga minyak dunia.
Ke depan, Henderson memperkirakan laju inflasi masih bisa terakselerasi. Bahkan bisa saja berada di atas target Bank Indonesia (BI).
“Kami memperkirakan inflasi akan memuncak pada semester I-2027 seiring dampak El Nino yang mengerek harga pangan,” tulis Henderson dalam catatannya.
Inflasi yang belum ‘jinak’ pun akan mempersulit BI untuk melonggarkan kebijakan moneter. Setelah kenaikan 125 basis poin (bps) sejak Mei, sulit BI Rate bergerak turun.
Ditambah lagi rupiah masih membutuhkan dukungan suku bunga. Sebab, fundamental rupiah sedang dalam posisi rawan.
(ell)































