Kedua perusahaan itu tetap mempertahankan kepemilikan sahamnya di VKTR sampai perdagangan awal bulan ini.
Adapun, Glencore dan Envision lebih dahulu menjalin nota kesepahaman atau penjajakan kerja sama dengan induk VKTR, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).
Kedua rekanan BNBR itu berencana untuk membangun industri ramah lingkungan atau net zero industrial park di bawah konsorsium Indo-Pacific Net-zero Battery-materials Consortium (INBC).
Kawasan industri kongsi dengan Glencore dan Envision itu rencanannya akan mencetak baterai listrik dengan dukungan pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Baterai setrum itu rencanannya akan dikirim untuk pasar di eropa.
Rencana konsorsium itu pertama kali dikenalkan Direktur Utama BNBR Anindya Novyan Bakrie pada perhelatan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Januari 2023 lalu. Anindya juga menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama VKTR saat ini.
Mengutip laman WEF, INBC akan membangun rantai pasok baterai listrik dengan mengolah 94.000 ton nikel per tahun atau setara dengan kapasitas sekitar 140 gigawatt per hour baterai berbasis nikel.
Kawasan industri itu juga ditargetkan mengembangkan 1 gigawatt kapasitas energi terbarukan melalui kombinasi tenaga angin darat (onshore wind farm) dan pembangkit listrik tenaga gas alam combined-cycle.
Lewat inisiasi INBC itu, VKTR disebutkan berencana untuk mengakuisisi tambang nikel di Sulawesi pada 2023 lalu. Hanya saja, akuisisi tambang nikel itu tak kunjung terlaksana sampai saat ini.
Investor institusi lain yang belakangan menambah muatan pada saham VKTR di antaranya Van Eck Associates Corp, Legal & General Group Plc, Storebrand ASA dan Keppel Ltd.
Adapun, Keppel Ltd yang dikendalikan Temasek Holdings memegang 551,92 juta saham VKTR atau setara 1,26% saham beredar. Cost basis rata-rata Keppel di VKTR sekitar Rp845,55 per saham. Adapun, Keppel masuk ke VKTR sejak Juni 2026.
Mengutip data KSEI, mayoritas saham VKTR kini dipegang BNBR sebagai pengendali perseroan. BNBR menguasai 10,68 miliar saham VKTR atau setara 24,41%.
Selanjutnya, Bakrie Metal Industries menguasai 9,21 miliar saham VKTR atau setara dengan 21,06% dari saham beredar.
Lengan investasi grup Bakrie itu baru saja mempertebal kepemilikannya di VKTR pada 28 Agustus lalu. Saat itu, Bakrie Metal Industries memborong 3 miliar saham VKTR di harga Rp100 per saham.
Utang Danantara
Sebelumnya, VKTR tengah menjajaki peluang pendanaan jumbo dari PT Danantara Investment Management (DIM).
Penjajakan itu tercermin dari penandatanganan dokumen indicative non-binding term sheet antara kedua perusahaan pada 28 Agustus 2026.
Pembahasan opsi pinjaman lengan investasi Danantara itu juga ikut melibatkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), holding bisnis keluarga Bakrie sekaligus pengendali VKTR.
“Penandatanganan term sheet tersebut merupakan bagian dari proses penjajakan dan pembahasan awal sehubungan dengan potensi kerja sama pendanaan untuk mendukung pengembangan dan ekspansi kegiatan usaha mobility-as-a-service (MaaS) yang dilakukan perseroan,” kata Direktur VKTR Indah Permatasari Saugi, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan indikasi awal yang tercantum dalam term sheet, potensi penyediaan pendanaan dilakukan dalam jumlah pokok indikatif sebanyak-banyaknya Rp2 triliun.
“Rencana pendanaan itu akan memiliki hak opsi konversi sebagaimana ditentukan di kemudian hari dalam dokumentasi definitif,” kata Indah.
Rencanannya, VKTR akan menggunakan utang itu untuk pembiayaan pengadaan bus listrik dan tujuan lainnya yang akan disepakati dengan Danantara dalam dokumen definitif.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menerangkan, investasi pada VKTR menjadi bagian dari upaya strategis untuk mengurangi emisi, memperkuat industri nasional serta mendorong hilirisasi.
Di sisi lain, Pandu memastikan, non-binding term sheet yang sudah ditandatangani itu merupakan kerangka awal. Keputusan Investasi Danantara bakal tetap melewati proses uji tuntas yang komprehensif.
“Proses uji tuntas yang komprehensif akan dilakukan untuk memastikan transaksi dapat memberikan nilai komersial yang baik dan memberikan kontribusi positf bagi pemabangunan ekonomi Indonesia,” kata Pandu.
Dari lantai bursa, saham VKTR cenderung menguat selepas kabar rencana pendanaan Danantara tersebut. Saham VKTR sempat menguat 4,84% ke level Rp975 per saham saat pembukaan perdagangan pagi ini.
Adapun, saham VKTR telah menguat 734,82% ke level Rp935 per saham selama satu tahun terakhir.
(naw)





























