Kendati begitu, dia masih enggan mengungkapkan identitas bisnis pertambangan nikel yang mengajukan revisi RKAB.
Sebelumnya, Wisnu mengonfirmasi salah satu entitas bisnis Antam bakal mengajukan revisi kuota produksi dalam RKAB 2026.
Kala itu, Wisnu menyatakan salah satu entitas dalam grup Antam sedang mempersiapkan pengajuan revisi RKAB.
Kendati begitu, Wisnu masih belum mengungkapkan entitas bisnis Antam di sektor nikel yang bakal mengajukan revisi RKAB tersebut. Dia juga belum membeberkan kuota produksi yang bakal direvisi.
“Sehubungan dengan dibukanya proses revisi RKAB Tahun 2026, Antam saat ini masih dalam tahap evaluasi dan penyusunan dokumen sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Wisnu ketika dihubungi, Jumat (3/7/2027).
“Pada tahap ini, terdapat satu entitas dalam Grup Antam yang dipersiapkan untuk mengajukan revisi RKAB. Adapun, usulan revisi tersebut masih dalam proses finalisasi dokumen dan akan diajukan sesuai mekanisme yang berlaku kepada Ditjen Minerba,” tegas Wisnu.
Adapun, Antam menargetkan produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 yang disetujui Kementerian ESDM mencapai 18,1 juta ton, naik 12,7% dari produksi bijih pada 2025.
Untuk produksi emas, pada tahun ini perseroan menargetkan produksi logam mulia sejumlah 935 kilogram, naik sekitar 25,8% dibandingkan dengan realisasi produksi 2025 sebanyak 743 kilogram.
Berdasarkan data Antam, diungkapkan bahwa produksi bijih nikel Antam sebanyak 18,1 juta ton tahun ini terbagi atas beberapa target produksi tambang nikel perseroan.
Pertama, produksi dari Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Kolaka pada tahun ini ditargetkan mencapai 2.954.610 wet metric ton (wmt). Lalu, target produksi dari UBPN Konawe Utara ditargetkan sebanyak 3.441.994 wmt.
Selanjutnya, target produksi dari UBPN Maluku Utara ditargetkan 1.645.444 wmt. Lalu, target produksi bijih nikel dari PT Sumber Daya Arindo (SDA) mencapai 2.839.023 wmt.
Kemudian, target produksi bijih nikel Antam dari PT Nusa Karya Arindo (NKA) dicanangkan sebesar 4 juta wmt. Terakhir, target produksi bijih nikel dari PT Gag Nikel direncanakan sebesar 3.267.000 wmt.
Sementara itu, untuk produksi bauksit, Antam menargetkan sebanyak 4,9 juta ton wmt pada 2026, naik 70% dibandingkan dengan realisasi produksi bijih bauksit pada 2025 sebanyak 2,8 juta ton.
Antam juga mengungkapkan RKAB 2026 untuk tambang bauksit di PT Mega Citra Utama (MCU) masih belum mendapatkan restu Kementerian ESDM, sebab masih dalam proses revisi feasibility study (FS).
Adapun, pengajuan RKAB 1 tahunan dilakukan paling cepat pada 1 Oktober tahun berjalan dan paling lambat pada 15 November setiap tahunnya.
Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Cara Penyusunan, Penyampaian, dan Persetujuan RKAB Serta Tata Cara Pelaporan Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
Saat ini, sejumlah penambang juga masih menunggu hasil revisi RKAB 2026 yang diajukan pada 1—31 Juli 2026.
Kementerian ESDM mengklaim sudah mulai menyetujui sejumlah pengajuan revisi RKAB 2026 untuk komoditas batu bara dan nikel.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan sudah terdapat sekitar belasan perusahaan nikel dan belasan perusahaan batu bara yang mendapat persetujuan revisi RKAB 2026.
Kendati begitu, Tri enggan menjelaskan jumlah tambahan kuota volume produksi yang disetujui untuk komoditas batu bara dan nikel.
“Ada, udah beberapa [yang disetujui pengajuan revisi RKAB]. Ada jumlahnya saya enggak ngitung. Mungkin sekitar segitu [sekitar belasan perusahaan masing-masing batu bara dan nikel],” kata Tri kepada awak media usai IIGCE 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2026).
Produksi bijih nikel dalam RKAB periode 2026 dipatok di rentang 260—270 juta ton. Angka ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan dengan target RKAB tahun sebelumnya yang mencapai 379 juta ton.
(azr/wdh)


























