Logo Bloomberg Technoz

Efek China

Jika proyeksi ekonom terkait data ekspor dan impor ini benar-benar terjadi, maka mengindikasikan bahwa pemulihan ekspor yang sempat terjadi pada Juni kemungkinan tidak berlanjut pada Juli.

Proyeksi capaian ekspor ini semakin relevan jika melihat data ekonomi China yang pada Juli juga memburuk. Data Produksi Industri China pada Juli melambat menjadi 4,5% dari posisi sebelumnya 5,3%. Bahkan, capaian tersebut lebih rendah dari proyeksi para ekonomi yang berada di level 5%. 

Belum lagi, data manufaktur China pada Juli yang terlihat dari data Purchasing Managers' Index (PMI) juga masih berada di zona kontraksi yakni 49,2 pada Juli. Di sisi lain, penjualan ritel di China juga hanya tumbuh 0,6% dari kenaikan bulan Juni 1%, dan mencapai titik terlemahnya dalam 18 bulan terakhir. 

Pelemahan itu terjadi lantaran penjualan mobil, yang jadi komponen terbesar dari penjualan ritel di China, terkontraksi 21%.  Selain itu, investasi properti China juga terkontraksi sebesar 19%. 

Sebagai mitra dagang utama, pelemahan ekonomi di China berdampak pada kinerja ekspor komoditas Indonesia. Sementara,  kinerja impor yang diproyeksikan masih lebih tinggi daripada ekspor.

"Impor berpotensi meningkat akibat membanjirnya produk-produk murah dari China ke pasar domestik," kata Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas. 

Hal tersebut disebabkan oleh lesunya permintaan dari pasar domestik China membuat sebagian produsen memiliki kelebihan produksi yang tak mampu diserap pasar China. 

Data ekspor dan impor ini akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) besok (1/8/2026). Sebagai catatan, ekspor Indonesia ke pasar China sangat dominan, disusul ke pasar Amerika Serikat (AS) dan India. Dengan ketiga negara ini saja, pangsa pasarnya mencapai 44,31% dari total ekspor non-migas Indonesia sepanjang semester I-2026. 

BPS mencatat ekspor Indonesia ke China mencapai US$34,56 miliar, setara dengan kontribusi 25,68% dari total ekspor Indonesia sepanjang semester I-2026. 

(dsp/aji)

No more pages