Logo Bloomberg Technoz

Adjusted EBITDA konsolidasi juga tumbuh 23,7% menjadi US$25,7 juta dari US$20,8 juta. Pada saat yang sama, rugi bersih menyusut 83,2% menjadi US$19,4 juta dari US$115,3 juta pada semester I-2025.

Perbaikan kinerja tersebut semakin ditopang oleh perubahan sumber pendapatan perseroan. Bisnis non-batu bara yang dipimpin segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik kini menyumbang 66,5% pendapatan konsolidasi TOBA, dibandingkan bisnis batu bara sebesar 31,4%.

Kontributor terbesarnya berasal dari bisnis pengelolaan limbah. Segmen ini membukukan pendapatan US$105,9 juta, tumbuh 77,8% dibandingkan US$59,6 juta pada semester I-2025. Kontribusinya mencapai 61,2% dari total pendapatan konsolidasi TOBA.

Dari sisi profitabilitas, laba kotor bisnis pengelolaan limbah tumbuh 91,9% menjadi US$17,6 juta, sementara EBITDA meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$23,6 juta. Segmen ini bahkan menyumbang sekitar 92% EBITDA konsolidasi perseroan.

Menurut Alvin, besarnya kontribusi pengelolaan limbah membuat profil pendapatan TOBA mulai berubah dibandingkan ketika perseroan masih sangat bergantung pada komoditas.

“Bisnis waste management memiliki karakter recurring revenue yang relatif lebih tinggi. Ketika kontribusinya sudah menjadi mayoritas dan mulai menghasilkan EBITDA yang signifikan, TOBA memiliki basis pendapatan yang lebih beragam dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Perkembangan serupa mulai terlihat pada bisnis kendaraan listrik melalui Electrum. Pendapatan segmen ini melonjak 184% menjadi US$9,1 juta pada semester I-2026.

Yang menarik, segmen kendaraan listrik juga mulai melewati fase pembentukan awal. Laba kotor berbalik positif menjadi US$0,4 juta dari rugi US$0,5 juta setahun sebelumnya, sementara EBITDA berubah menjadi positif US$0,5 juta dari posisi negatif pada periode sebelumnya.

Skala ekosistem Electrum juga terus berkembang dengan hampir 14.000 unit sepeda motor listrik dan 550 Battery Swapping Station. Frekuensi penukaran baterai telah melampaui 1,7 juta kali per bulan, sementara total jarak tempuh kendaraan dalam ekosistem tersebut telah menembus 135 juta kilometer.

Di sisi neraca, TOBA memiliki posisi kas sebesar US$94,7 juta per akhir Juni 2026. Utang bank jangka pendek turun 30,9% secara year toi date dan total liabilitas jangka pendek berkurang 13,5%. Perseroan juga memperpanjang profil jatuh tempo utang melalui refinancing obligasi rupiah, yang menggeser sekitar US$27,5 juta kewajiban dari jatuh tempo jangka pendek.

Alvin menilai kombinasi perbaikan arus kas, pertumbuhan EBITDA, serta semakin besarnya kontribusi bisnis non-batu bara menjadi indikator yang lebih relevan untuk menilai perkembangan TOBA ke depan.

“Kalau tren ini bisa dipertahankan, fokus berikutnya bukan lagi sekadar seberapa cepat TOBA mengurangi eksposur terhadap batu bara, tetapi seberapa besar bisnis barunya mampu menghasilkan EBITDA dan arus kas secara konsisten. Dari angka semester pertama ini, arah tersebut mulai terlihat,” kata Alvin.

(tim)

No more pages