“Kalau melihat nilai dolar terhadap rupiah, dulu memang Rp16.500, sekarang misalkan Rp17.000, kita memang tidak melihat angka itu sebagai suatu instabilitas karena ini adalah nominal,” kata Solikin.
“Tetapi pada saat kita bicara pergerakannya, volatility-nya, di situlah kita melihat stabilitasnya. Kalau kita bicara dalam teknik engineering, stationarity-nya. Karena tadi kita bicara nilai tukar, di situlah volatility itu dikelola oleh BI agar tidak terlalu bergejolak.”
Menurut Solikin, volatilitas yang terlalu tinggi dapat menciptakan ketidakpastian bagi pasar. Karena itu, BI perlu mengelola volatilitas rupiah agar pergerakannya tidak terlalu berlebihan hingga menyebabkan overshooting.
Dia mengatakan BI juga memiliki perhitungan mengenai level fundamental nilai tukar. Nilai tukar fundamental tersebut, kata dia, harus konsisten dengan pertumbuhan ekonomi 5%-6%, current account deficit di bawah 3%, serta inflasi di bawah 3%.
Solikin juga menyoroti mengenai sentimen dan persepsi pasar yang juga harus dikelola. Oleh karena itu, Solikin juga akan mengandalkan kebijakan policy communication, terutama untuk menenangkan pasar dan sentimen bisa dikelola dengan baik.
Sehingga menurut Solikin, terkait nilai tukar, BI harus melihat konteks penyebab ketidakstabilan nilai tukar. Apabila penyebabnya hanyalah sentimen, persuasi dan komunikasi bisa dilakukan.
“Tetapi kalau itu sudah menyakut pasar kemudian, oh pasarnya kering, kita lakukan intervensi Pak suku bunga tentunya, ini hanya the last resort, karena ini sangat dalam implikasinya,” kata Solikin.
(ell)





























