Logo Bloomberg Technoz

Sentimen Domestik

Sementara bagi rupiah, sentimen dari dalam negeri lebih kuat ketimbang tekanan eksternal. Pelaku pasar mencerna arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Destry Damayanti, setelah mendengar paparannya dalam tes uji dan kelayakan di DPR. 

Destry menyatakan kondisi neraca pembayaran Indonesia perlu mendapatkan perhatian untuk menahan volatilitas rupiah dari gempuran sentimen eksternal. Sebab, tantangan rupiah dalam jangka panjang berasal dari sisi eksternal.  

Salah satunya dengan peningkatan ekspor untuk memperkuat sektor eksternal Indonesia. Sebab, transaksi berjalan Indonesia masih menghadapi defisit, salah satunya akibat defisit jasa dan pembayaran pendapatan. 

Untuk diketahui, defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai US$12,5 miliar atau sebesar 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, pada kuartal pertama defisit pos ini adalah US$3,6 miliar, atau 1% dari PDB.

Ia memaparkan bahwa pergerakan rupiah diperngaruhi oleh dua faktor utama: kondisi fundamental ekonomi dalam jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek pergerakannya lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar.  

Terkait sentimen pasar, BI sendiri sempat diliputi oleh kekhawatiran soal independensi. Terkait ini, Destry mengatakan akan memastikan independensi BI sambil terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mencapai stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. 

"Saya ingin menengaskan bahwa sinergi bukan berarti mengurangi kredibilitas dan independensi BI dalam menjalankan tugasnya. Kami akan tetap menjunjung tinggi independensi sebagaimana diatuar dalam undang-undang," kata Destry. 

Pernyataan ini memang sedikit meredakan kekhawatiran investor terkait intervensi pemerintah dalam kebijakan BI, setelah mundurnya mantan Gubernur BI Perry Warjiyo beberapa waktu lalu. 

Akan tetapi, pasar juga membaca adanya sinyal bahwa kebijakan moneter ke depan akan tetap berupaya mencari keseimbangan antara dua kepentingan: menjaga stabilitas rupiah, sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.  

Di sisi lain, hari ini sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa akan menggelar aksi demonstrasi di kawasan Gedung DPR/MPR RI, Senayan dengan tuntutan yang beragam. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi pelaku korupsi. 

Sementara, Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) membawa aksi terkait pengawasan fungsi legislasi, anggaran, serta kebijakan politik dan ekonomi. 

Dalam konteks ini, kondisi aksi dan stabilitas keamanan akan menjadi perhatian utama investor. Jika terjadi eskalasi dan ketegangan, sentimen risk-off berpotensi kembali meliputi pasar domestik.

Kekhawatiran investor sudah sedikit terasa di pasar obligasi pada perdagangan kemarin (26/8/2026), dengan adanya kenaikan yield pada hampir semua tenor, terutama tenor pendek dan menengah. 

Yield tenor acuan 10 tahun bergerak naik 3,9 bps ke 7,05%. Sementara yield tenor 1 tahun kembali naik 5,9 bps ke 6,74%, dan tenor 5 tahun naik 3,3 bps ke 6,89%. 

Namun sebaliknya, jika aksi massa berlangsung kondusif dan pemerintah lebih akomodatif terhadap tuntutan, sentimen pasar dan kepercayaan investor berpeluang terjaga, dan rupiah dapat mempertahankan posisinya di kisaran Rp17.740-Rp17.850/US$. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai tukar rupiah dibayang-bayangi potensi pelemahan, mencermati berbagai sentimen hingga wait and see pasar, dengan pelemahan terdekat menuju level Rp17.740/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.790/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 27 Agustus 2026 (Sumber: Bloomberg)

Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp17.850/US$ sebagai support terkuatnya.

Jika nilai tukar rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level di range Rp17.700/US$ dan selanjutnya Rp17.650/US$.

Adapun rupiah sejatinya masih ada potensi penguatan optimistis lanjutan seiring sentimen pasar yang mulai membaik ke resistance potensialnya ke level Rp17.600/US$ biarpun saat ini masih terbatas peluangnya.

(riset)

No more pages