Selama hampir dua bulan, pasar logam global telah bersiap menghadapi pengumuman dari Gedung Putih mengenai rencananya untuk memberlakukan tarif impor terhadap tembaga olahan, dan logam terus membanjiri pelabuhan dan gudang penyimpanan AS menjelang keputusan tersebut.
Para pedagang terus memantau fluktuasi persediaan di LME. Pengiriman logam dalam jumlah besar ke gudang bursa pekan lalu membantu meredakan kelangkaan, namun permintaan penarikan lebih dari 50.000 metrik ton tembaga pada hari Senin memicu kekhawatiran baru terkait pasokan. Stok yang tercatat dalam surat jaminan di gudang Bursa Berjangka Shanghai juga turun untuk hari keenam berturut-turut pada hari Rabu.
Tembaga acuan tiga bulan diperdagangkan pada US$14.350 pada pukul 13.03 di London, masih mendekati rekor tertinggi intraday sebesar US$14.527,50 yang dicapai pada Januari. Seng naik 1,3% dan timah turun 0,4%, sementara logam dasar lainnya relatif stabil.
Latar belakang yang lebih luas di balik lonjakan harga tembaga adalah meningkatnya permintaan jangka panjang dari sektor kecerdasan buatan, energi terbarukan, dan jaringan listrik. Dan dengan kebutuhan pasokan yang semakin besar, gangguan apa pun pada operasi tambang tentu tidak membantu.
Pasar global kehilangan sekitar 338.000 ton pada paruh pertama tahun ini akibat kendala penambangan di Indonesia, Republik Demokratik Kongo, dan Chili, menurut konsultan Project Blue.
“Harga tembaga tetap didukung oleh fundamentalnya sendiri,” tulis Jinrui Futures Co. dalam sebuah catatan, dengan menetapkan 106.000 yuan atau US$15.770 per metrik ton sebagai level support di Bursa Berjangka Shanghai. Harga di Tiongkok saat ini berada di sekitar 109.000 yuan.
(bbn)
































