Kemudian saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 3,03%, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terpangkas 2,26%, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpeleset 2,06%, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terpotong 1,88%, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) tertekan 1,64%, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 1,61%.
Pelemahan IHSG pada siang ini dipengaruhi oleh sentimen domestik. Melansir riset Panin Sekuritas, pasar tengah mencermati fit and proper test di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terhadap terkait calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti.
“Pelaku pasar menanti sinyal terkait arah kebijakan moneter ke depan, khususnya terutama terkait independensi BI, stabilitas rupiah, serta ruang pelonggaran suku bunga di tengah tekanan eksternal dan domestik,” papar riset Panin Sekuritas.
Pasar juga cenderung berhati–hati menjelang rencana aksi demonstrasi besok, yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian domestik dan mendorong investor untuk lebih defensif.
Sementara itu, investor bisa sedikit bernafas lega di tengah penurunan tajam harga minyak mentah di pasar global. Hal tersebut turut menyulut optimisme pasar di Bursa Saham Asia.
Pada perdagangan tengah hari, sejumlah bursa saham Asia kompak menguat. Weighted Index (Taiwan), KOSPI (Korea), CSI 300 (China), SETI (Thailand), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Composite (China), Shenzhen Comp. (China), TOPIX (Jepang), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan SENSEX (India) sukses menapaki jalur hijau.
Dalam riset yang sama, Panin Sekuritas menyebut harga minyak brent turun 2,49% didorong oleh potensi pembentukan “temporary joint maritime corridor” antara Iran dan Oman di Selat Hormuz. Potensi deeskalasi AS-Iran juga meningkat seiring upaya diplomasi yang didukung oleh kunjungan Kepala Angkatan Darat Pakistan ke Tehran serta mediasi Qatar.
“Selain itu, langkah AS untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dinilai lebih ringan dari ekspektasi pasar. Negara-negara yang masih bertransaksi dengan Iran diberikan waktu untuk menghentikan perdagangan sebelum sanksi diberlakukan, sehingga risiko gangguan ekspor minyak Iran dalam jangka pendek tetap terbatas,” tulis riset Panin Sekuritas.
(fad/aji)
































