“Dia mampu melampaui batas-batas kelas dalam musik dengan membawa isu pekerjaan, kehidupan nyata, dan perempuan tangguh ke dunia musik pop yang biasanya didominasi kisah cinta yang tidak realistis,” tulis Gloria Steinem, salah satu pendiri dan editor awal majalah feminis Ms., tentang Parton pada 1987. “Dia menggunakan naluri bisnisnya untuk mengajak perempuan lain dan masyarakat miskin maju bersamanya. Dan gaya flamboyannya mengubah semua simbol feminitas yang selama ini dianggap remeh menjadi sesuatu yang menguntungkan dirinya.”
Presiden Donald Trump memerintahkan bendera AS dikibarkan setengah tiang selama sepekan untuk menghormati Parton. Dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan bahwa “tidak pernah ada orang seperti dia, dan tidak akan pernah ada lagi.”
Dalam konser, Parton memikat penonton dengan nyanyian bersama yang meriah, kisah-kisah penuh makna, serta lagu-lagu lama yang membangkitkan nostalgia. Ia bergantian memainkan hingga 20 alat musik, termasuk banjo, dulcimer, autoharp, dan seruling pan. Di sela-sela lagu, ia menghibur penggemar dengan Dollyisms tentang operasi plastik yang pernah dijalaninya atau kemiskinan di masa kecilnya (“kami punya air mengalir kalau kami mau berlari mengambilnya!”), serta mendorong mereka menemukan ketenangan melalui penerimaan dan pengampunan.
“Dia mengingatkan para penontonnya bahwa, dari mana pun mereka berasal, setiap orang bisa merasakan bagaimana rasanya dipermalukan dengan satu atau lain cara, dan tidak ada seorang pun yang pantas mendapat perlakuan itu,” tulis Sarah Smarsh dalam She Come By It Natural: Dolly Parton and the Women Who Lived Her Songs (2020). “Jika kehadiran dan penghargaan yang ditumbuhkannya dalam diri orang-orang dapat dirangkum menjadi sebuah frasa, frasa itu adalah: ‘Jadilah dirimu sendiri.’”
Pesona dan kecerdasan spontan yang begitu kuat ditampilkan Parton dalam wawancara dan berbagai penampilan publik menutupi sosok musisi gigih yang mengguncang dunia musik country yang didominasi laki-laki. Ketika Parton menandatangani kontrak rekaman pertamanya saat remaja pada 1962, belum ada perlindungan federal terhadap kesenjangan upah berdasarkan gender untuk pekerjaan yang sama maupun diskriminasi gender di tempat kerja.
“Menjadi perempuan selalu menguntungkan saya,” kata Parton kepada Out Magazine pada 1997. “Saya tidak keberatan jika ini adalah dunia milik laki-laki, selama mereka tidak keberatan jika kami yang menjalankannya.”
Masa Kecil dalam Kemiskinan
Dolly Rebecca Parton lahir pada 19 Januari 1946 di sebuah rumah kabin kayu di Sevier County, Tennessee. Ia merupakan anak keempat dari 12 bersaudara, dari pasangan Robert Lee Parton, seorang buruh harian dan petani subsisten yang buta huruf, serta Avie Lee Parton, seorang ibu rumah tangga.
Parton senang mengenang bagaimana ayahnya membayar Dr. Robert F. Thomas—dokter setempat yang kemudian ia abadikan dalam sebuah lagu pada 1973—dengan sekarung tepung jagung.
Keluarga tersebut kemudian pindah ke sebuah kabin dua kamar tanpa listrik dan air mengalir di sebuah perkebunan tembakau di Locust Ridge, tak jauh dari sana.
Parton mengabadikan masa kecilnya di pedesaan dalam album otobiografinya pada 1973, My Tennessee Mountain Home, yang menggambarkan kenangan masa lalu tentang mainan buatan sendiri, tungku kayu, dan aroma bunga honeysuckle, sekaligus kondisi miskin yang mengharuskan seluruh 12 anak keluarga Parton bekerja di pertanian dan tidur bertiga atau berempat dalam satu tempat tidur. Lagu utama dalam album tersebut ditetapkan sebagai lagu resmi negara bagian Tennessee pada 2022.
Ibunya memimpin acara bernyanyi bersama keluarga dengan lagu-lagu dari garis keturunan Cherokee serta lagu-lagu rakyat Inggris, era Elizabeth, dan Irlandia yang berakar dari tradisi Appalachia. Parton mulai bernyanyi sejak masih balita dan menciptakan lagu pertamanya sekitar usia 6 tahun, yang ia persembahkan untuk boneka tongkol jagung dengan rambut dari serabut jagung. Pada Sabtu malam, keluarga mereka berkumpul di sekitar radio bertenaga baterai di pertanian untuk mendengarkan siaran Grand Ole Opry dari Nashville.
Dengan mengasah kemampuan vokalnya di gereja milik kakeknya, Parton menarik perhatian pamannya, Bill Owens, seorang gitaris yang kemudian menjadi rekan penulis lagunya. Owens membantu Parton yang saat itu berusia 10 tahun mendapatkan kesempatan tampil secara rutin di The Cas Walker Farm and Home Hour, sebuah acara radio dan televisi di Knoxville. Pada 1959, Parton pertama kali tampil di Grand Ole Opry dan merekam singel pertamanya, Puppy Love dan Girl Left Alone.
Setelah lulus SMA pada 1964, Parton pindah ke Nashville dan bertemu Carl Dean, seorang pekerja pengaspalan. Keduanya menikah secara diam-diam pada 1966. Seiring Parton meraih ketenaran, keengganan Dean tampil di depan publik membuat sejumlah jurnalis berspekulasi bahwa suaminya sebenarnya tidak ada. Keduanya tetap menikah hingga Dean meninggal pada 2025.
Parton meraih ketenaran sebagai penyanyi country pada akhir 1960-an dan awal 1970-an lewat balada tentang patah hati dan kerinduan, kritik jenaka terhadap suami yang tidak peduli, serta kisah memilukan tentang perempuan yang ditelantarkan dan mengalami kekerasan. Singelnya pada 1967, Dumb Blonde—salah satu dari sedikit lagu pada era tersebut yang tidak ia tulis sendiri—mengingatkan pendengar bahwa “jangan mengira saya bodoh hanya karena saya pirang, karena si pirang bodoh ini bukan orang yang bisa dipermainkan.”
‘Cara Tampil’
Karya-karya awal tersebut menarik perhatian Porter Wagoner, yang acara varietasnya menjadi salah satu program utama dalam kancah musik country Nashville. Keduanya tampil bersama selama tujuh tahun dan merekam tujuh album. “Saya bisa bernyanyi ketika bertemu Porter,” tulis Parton dalam otobiografinya pada 1994, Dolly. “Setelah mengenalnya, saya tahu bagaimana caranya tampil.”
Rekan-rekan satu band dan anggota keluarganya mengenang bagaimana Parton menulis lagu di tiket laundry, serbet restoran, dan bungkus permen. Salah satunya kemudian menjadi singelnya pada 1971, Coat of Many Colors, yang terinspirasi dari kenangan masa kecil tentang pakaian yang dijahit ibunya dari kain perca agar menyerupai jubah warna-warni milik Yusuf dalam Kitab Kejadian.
Karena ingin mengambil kendali atas karier solonya, Parton merasa bimbang tentang bagaimana memberi tahu Wagoner bahwa ia akan meninggalkan acara tersebut akibat hubungan mereka yang memburuk, yang kemudian ia ibaratkan seperti perkawinan yang gagal. “Bagaimana saya bisa membuatnya mengerti betapa saya menghargai semua yang telah dilakukannya, tetapi saya tetap harus pergi?” kata Parton kepada The Tennessean. “Jadi saya pulang dan berpikir, ‘Apa yang paling bisa kamu lakukan? Kamu bisa menulis lagu.’ Lalu saya duduk dan menulis lagu ini.”
Lagu tersebut, I Will Always Love You, mencapai posisi No. 1 di tangga lagu country pada 1974 dan kembali menduduki posisi teratas pada 1982 setelah Parton merekam ulang lagu itu untuk film The Best Little Whorehouse in Texas, yang dibintanginya bersama Burt Reynolds. Parton awalnya menyetujui Elvis Presley membawakan lagu tersebut sebelum mengetahui bahwa manajemennya meminta setengah hak penerbitan lagu. Parton menolak tawaran tersebut dan mempertahankan hak cipta sepenuhnya. Keputusan itu terbukti menguntungkan ketika versi Whitney Houston untuk film The Bodyguard (1992) bertahan selama 14 pekan berturut-turut di posisi No. 1 tangga lagu Billboard Hot 100.
Parton mengatakan ada kemungkinan ia menulis I Will Always Love You pada hari yang sama dengan Jolene, lagu yang berisi permohonan kepada seorang perempuan cantik berambut merah kecokelatan agar berhenti berusaha merebut suaminya. Jolene, singel kedua Parton yang mencapai No. 1 di tangga lagu country, kemudian dibawakan ulang oleh sejumlah artis, termasuk Beyoncé, The White Stripes, dan Olivia Newton-John.
Pada 1976, Parton mengakhiri hubungan kerja dengan Wagoner, yang terus memproduseri rekaman Parton setelah ia meninggalkan acara televisinya. Wagoner menggugatnya sebesar US$3 juta karena dianggap melanggar kontrak dan mengecamnya di media karena dinilai tidak loyal. Keduanya akhirnya menyelesaikan sengketa dengan pembayaran US$1 juta dan berdamai sebelum Wagoner meninggal pada 2007.
Parton kemudian menandatangani kontrak dengan agensi bakat asal Los Angeles, Katz-Gallin-Cleary, yang mewakili artis pop seperti Cher dan The Osmonds. Ia juga memindahkan produksi albumnya dari Nashville ke Los Angeles. Bersama band barunya, Gypsy Fever, ia merekam album Here You Come Again pada 1977, yang memadukan nuansa disko dengan musik country tradisionalnya dan menjadi album pertamanya yang meraih sertifikasi platinum dari Recording Industry Association of America (RIAA). Lagu utama album tersebut membuat Parton meraih Grammy Award pertamanya dari total 10 penghargaan yang ia menangkan.
Singel No. 1
Singel pertamanya yang mencapai posisi No. 1 di Billboard Hot 100 dirilis tiga tahun kemudian, yakni 9 to 5, lagu tema film komedi 1980 yang dibintangi Parton, Jane Fonda, dan Lily Tomlin. Film tersebut berkisah tentang tiga perempuan yang berupaya membalas perlakuan bos mereka yang seksis. Film itu juga menjadi debut Parton sebagai aktris. Lagu 9 to 5, yang mendapat nominasi Academy Award, menjadi seruan bagi satu generasi perempuan yang menghadapi seksisme di tempat kerja.
Tiga tahun kemudian, ia kembali meraih posisi No. 1 lewat Islands in the Stream, duet bersama penyanyi country Kenny Rogers.
Dalam wawancara dengan Barbara Walters pada 1982, Parton mengungkapkan keinginannya membangun taman hiburan di kampung halamannya—“seperti Disneyland, hanya saja lokasinya di Pegunungan Smoky.” Empat tahun kemudian, Parton bergabung dengan pengelola Silver Dollar City, sebuah taman hiburan di Pigeon Forge, untuk mengubahnya menjadi Dollywood. Ia berharap taman tersebut dapat meningkatkan lapangan kerja di Sevier County.
“Banyak orang bisnis saya mengatakan, ‘Itu kesalahan besar, itu cara yang bagus untuk menghabiskan semua uangmu,’” kata Parton kepada Reuters pada 2016. “Kemudian saya menyingkirkan pengacara dan akuntan yang tidak percaya pada saya dan menggantinya dengan orang-orang yang percaya. Tak perlu dikatakan lagi, ini merupakan investasi terbesar dan terbaik yang pernah saya lakukan.”
Sebuah studi pada 2021 oleh Departemen Transportasi Tennessee memperkirakan Dollywood menerima 3 juta pengunjung per tahun dan memberikan dampak ekonomi tahunan sebesar US$1,8 miliar bagi kawasan tersebut.
Parton kembali mendapat nominasi Oscar pada 2006 untuk lagunya, Travelin’ Thru, dari soundtrack film Transamerica, sebuah film perjalanan tentang seorang perempuan transgender yang kembali menjalin hubungan dengan putranya yang telah lama terpisah. Film tersebut membuat sejumlah penggemar Parton yang lebih konservatif marah. “Karena saya punya banyak penggemar dari kalangan gay, saya mendapat surat kebencian dan ancaman,” katanya kepada The Tennessean. “Sebagian orang buta atau tidak berpengetahuan, dan Anda tidak bisa bersikap begitu penuh prasangka dan kebencian, lalu menjalani hidup ini dengan bahagia. Salah satu hal tentang film ini adalah saya pikir seni bisa mengubah cara pandang orang. Tidak apa-apa menjadi diri sendiri.”
Selama puluhan tahun, para jurnalis bertanya kepada Parton apakah ia pernah mempertimbangkan terjun ke dunia politik karena popularitasnya yang luas. Ia menghindar dengan salah satu Dollyisms-nya yang paling terkenal: “Saya rasa kita sudah cukup punya ‘boobs’ di Gedung Putih.” Istilah tersebut merupakan sindiran yang merujuk pada orang-orang yang dianggap tidak cakap atau bodoh. Ia sengaja menghindari istilah “feminis” karena menganggapnya terlalu sarat muatan politik dan memilih menyebut dirinya sebagai “perempuan dalam dunia bisnis.”
Sebagai filantropis, Parton mendirikan Imagination Library, yang sejak diluncurkan pada 1995 telah memberikan lebih dari 300 juta buku gratis kepada anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Pada 2020, ia menyumbangkan US$1 juta kepada Vanderbilt University Medical Center untuk mendukung kerja sama lembaga tersebut dengan perusahaan farmasi Moderna Inc. dalam mengembangkan salah satu vaksin virus corona pertama. Ia juga menyumbangkan US$1 juta untuk upaya pemulihan setelah Badai Helene melanda Tennessee Timur pada 2024. Ia mendukung kesejahteraan hewan melalui lini produk hewan peliharaannya, Doggy Parton.
Parton pernah menyatakan bahwa “tidak mungkin saya pensiun” dan berencana menggelar tur besar pada 2025. Namun, serangkaian masalah kesehatan memaksanya membatalkan rencana tersebut.
(bbn)































