Meski perusahaan tidak memberikan rincian penjualan kuartal kedua, sebagian besar analis memperkirakan pendapatan kuartal kedua menyusut sekitar 10%. Hal ini memicu kewaspadaan menjelang kuartal yang berakhir September, yang menghadapi basis perbandingan yang sulit karena lonjakan penjualan Labubu pada periode yang sama tahun lalu.
Morgan Stanley memangkas estimasi penjualan semester kedua, dengan memperkirakan penjualan turun 35%-40% pada kuartal ketiga dan sekitar 10% pada kuartal keempat. Citigroup kini memperkirakan pendapatan grup turun 8% tahun ini. Para analis, termasuk Lydia Lin, mengatakan visibilitas terhadap pemulihan masih rendah.
“Kemungkinan besar kami akan gagal mencapai target pertumbuhan 20%,” kata Chief Executive Officer Wang Ning dalam konferensi pers pada Kamis. “Kinerja luar negeri mencatat penurunan secara tahunan pada semester pertama tahun ini,” ujarnya.
Perusahaan telah mengalami penumpukan persediaan dalam jumlah besar selama enam bulan terakhir atau lebih, kata Chief Operating Officer Si De dalam konferensi pers yang sama.
Meski pertumbuhan melambat, Pop Mart mengatakan akan terus meluncurkan produk-produk Labubu baru untuk mendukung waralaba andalannya. Perusahaan juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai 2 miliar yuan hingga 5 miliar yuan (US$297 juta-US$744 juta) dalam enam bulan ke depan. Langkah tersebut menunjukkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan meski pertumbuhan menghadapi tantangan dalam jangka pendek.
(bbn)





























