Logo Bloomberg Technoz

Ragam Tantangan yang Bisa Jegal RI Jadi Price Maker Lewat Icomex

Azura Yumna Ramadani Purnama
21 August 2026 10:30

Timah batangan yang ditumpuk dibungkus untuk pengiriman di gudang pabrik timah PT Timah di Pangkal Pinang, Pulau Bangka./Bloomberg-Dimas Ardian
Timah batangan yang ditumpuk dibungkus untuk pengiriman di gudang pabrik timah PT Timah di Pangkal Pinang, Pulau Bangka./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta - Analis komoditas mengungkapkan terdapat sejumlah tantangan yang berpotensi menjegal keinginan Indonesia untuk dapat menjadi penentu harga sejumlah komoditas unggulan melalui Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) atau Indonesia Commodity Exchange (Icomex).

Analis komoditas dan Founder Tranderindo Wahyu Laksono menilai untuk menjadikan BMKS sebagai price maker maka membutuhkan bursa derivatif atau kontrak berjangka yang likuid untuk fasilitas lindung nilai atau hedging.

Wahyu menegaskan investor dan pelaku industri global memilih London Metal Exchange (LME) atau Shanghai Futures Exchange (SHFE) bukan hanya karena barang fisiknya, melainkan karena kedalaman pasar finansialnya.


“Kegagalan upaya terdahulu seperti bursa timah atau CPO yang kurang bergigi dibanding LME atau MDEX memberikan pelajaran berharga. Terdapat tantangan mendasar yang dihadapi,” kata Wahyu ketika dihubungi, Kamis (20/8/2026).

Risiko selanjutnya, terdapat potensi harga yang salah dan membuat retaliasi pasar. Wahyu menyatakan jika harga komoditas di Icomex patokannya dipaksa terlalu tinggi dibandingkan keekonomian riil, maka pembeli global berisiko berpaling ke negara produsen alternatif.