Logo Bloomberg Technoz

Pernyataan tersebut mengemuka ketika Seoul berusaha menjaga momentum dialog, bahkan saat Pyongyang membantah adanya komunikasi tingkat tinggi dengan Washington serta mengacuhkan keputusan AS untuk memangkas skala latihan militer gabungan dengan Korea Selatan.

"Pesan terbaru dari Presiden Trump bagi saya merupakan keputusan besar yang mencerminkan pertimbangan mendalam tentang bagaimana bergerak melampaui permusuhan dan konfrontasi serta membangun perdamaian di Semenanjung Korea," ujar Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam sebuah unggahan larut malam di X pada Rabu (19/8).

Lee pada Januari lalu menyampaikan bahwa Korut memproduksi material nuklir dengan kecepatan yang dapat memungkinkannya menambah hingga 20 senjata nuklir per tahun. Hal ini mempertegas kekhawatiran bahwa Pyongyang hampir tidak memiliki niat untuk memperlambat program nuklirnya.

Jika laju tersebut terus dipertahankan, stok milik Korut pada akhirnya akan setara dengan jumlah milik Prancis dari segi ukuran—meskipun mungkin belum sebanding dari tingkat kecanggihannya—serta jauh melampaui simpanan Israel yang berada di kisaran 90 hulu ledak, menurut estimasi Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Korut diyakini memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir dan material fisi yang cukup untuk memproduksi setidaknya 30 hulu ledak tambahan, berdasarkan laporan terbaru SIPRI.

Persenjataan yang terus berkembang ini makin menyulitkan upaya Trump untuk menghidupkan kembali diplomasi dengan Kim. AS dan Korsel pekan ini mengumumkan bahwa mereka akan mempercepat penyelesaian latihan militer gabungan setelah Trump memerintahkan pengurangan skala latihan tersebut dengan mengutip hubungannya yang baik dengan Kim. Trump juga mengklaim bahwa Kim telah merespons permintaan agar kedua pemimpin melakukan pembicaraan, sebuah klaim yang dibantah oleh Pyongyang.

Korut mengacuhkan langkah mengejutkan yang bertujuan meredakan ketegangan tersebut, dengan menyatakan bahwa terlepas dari hubungan yang "sangat baik" antara Trump dan Kim, kebijakan bermusuhan AS tetap tidak berubah. Meski demikian, Presiden Korea Selatan Lee menyambut baik langkah Trump sebagai potensi pembuka bagi pemulihan jalur diplomasi.

"Kami mendukung tekad dan upaya Presiden Trump untuk menciptakan kondisi dialog yang bertujuan membangun rezim perdamaian di Semenanjung Korea, bahkan dengan memangkas latihan gabungan dan latihan lapangan Korea Selatan-AS, dan kami memuji keputusannya," kata Lee.

Trump dan Kim pernah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama pemimpin AS tersebut, tetapi pembicaraan itu gagal meredam ambisi nuklir Korut. Sejak saat itu, Kim muncul sebagai sekutu kunci Rusia dalam perang Presiden Vladimir Putin melawan Ukraina, meninggalkannya dengan sedikit insentif untuk segera terlibat dengan AS mengenai program nuklir yang sangat berharga bagi negaranya.

(bbn)

No more pages