Logo Bloomberg Technoz

Risalah ini akan menjadi panduan bagi pelaku pasar mengukur langkah The Fed untuk menaikkan suku bunga sebelum fokus beralih ke Simposium Kebijakan Ekonomi yang akan digelar The Fed pada 27-28 Agustus mendatang. 

Risalah pada Juli lalu, The Fed menunjukkan bahwa tekanan untuk menaikkan suku bunga masih cukup tinggi. Tiga orang pejabat The Fed bahkan kala itu berbeda pendapat dan menginginkan kenaikan 25 basis poin (bps), sementara sejumlah pejabat lainnya menilai pengetatan masih diperlukan jika inflasi tetap tinggi. 

Kini, inflasi AS cenderung landai, di 3,4% turun dari posisi sebelumnya 3,5%. Meski posisi ini masih jauh dari target The Fed yang berada di 2%, pelaku pasar telah menurunkan ekspektasinya dan memperkirakan peluang kenaikan pada September hanya sekitar 56% dari sebelumnya 82%, setelah pertemuan Juli. 

Ekspektasi ini membuat posisi dolar AS lebih jinak dari sebelumnya dan memberi ruang penguatan bagi mata uang Asia, meski terbatas. Terlebih, ketidakpastian geopolitik kembali tinggi membuat investor lebih bersikap hati-hati. 

Arah The Fed akan jadi faktor penentu pergerakan rupiah di pasar domestik, di tengah suku bunga acuan BI Rate yang baru saja ditahan di 5,75%, kemarin. Dari sisi eksternal, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. 

Tetapi di sisi lain, harga minyak masih bertahan di atas US$90/barel jadi sumber tekanan karena berisiko menyebabkan inflasi impor dan kebutuhan devisa untuk pembayaran belanja energi. 

Sementara, posisi cadangan devisa sudah cukup tergerus sepanjang tahun ini dan tersisa US$145 miliar, dari posisi tertinggi pada Desember 2025 di US$156,5 miliar. 

Di tengah kombinasi ini, pergerakan rupiah diperkirakan akan terkonsolidasi dengan bias melemah, meski mendapat sedikit tenaga dari melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, dan tetap dibayangi oleh mahalnya harga minyak dan ketidakpastian geopolitik. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal, nilai tukar rupiah sejatinya ada peluang menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat pada level Rp17.800/US$.

Resistance potensial selanjutnya bisa menembus Rp17.770/US$ usai penembusan trendline sebelumnya. Rupiah juga memiliki level Rp17.700/US$ sebagai acuan paling optimistis dalam tren jangka pendek (short-term).

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 20 Agustus 2026 (Sumber: Bloomberg)

Namun jika nilai tukar rupiah justru melemah, maka level support terdekat adalah Rp17.850/US$. Penembusan di titik itu memberi konfirmasi support selanjutnya di level Rp17.900/US$ hingga support psikologis Rp18.000/US$.

(riset/aji)

No more pages