Meski porsi utang dalam bentuk mata uang yuan masih mini, tetapi kenaikannya mencapai 53,6%, dari posisi tahun lalu di US$11,61 miliar. Secara nominal, naik US$6,23 miliar secara tahunan dan menjadikan yuan sebagai kontributor terbesar terhadap kenaikan utang luar negeri Indonesia dalam setahun.
Selain yuan, mata uang euro juga tumbuh signifikan, menjadi US$41,29 miliar dari posisi tahun lalu US$35,43 miliar, naik 16,5% setara dengan US$5,85 miliar.
Sebaliknya, porsi yen Jepang justru menyusut dari US$20,98 miliar menjadi US$17,75 miliar, berkurang US$3,24 miliar, atau 15,4%. Begitu juga dengan dolar AS, meski masih tumbuh, tetapi hanya 1,1% dengan kenaikan US$3,06 miliar, menjadi US$271,11 miliar dari posisi tahun lalu US$268,04 miliar.
Diversifikasi Mata Uang
Depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang terjadi sepanjang kuartal kedua mendorong pemerintah mengatur ulang strategi pembiayaan dengan melakukan diversifikasi mata uang.
Dengan yuan, pemerintah menambah porsi utang lewat penerbitan surat utang berdenominasi yuan bernama Panda Bond. Bukan tanpa sebab pemerintah memilih berutang dalam bentuk yuan.
China merupakan salah satu pasar obligasi terbesar di dunia dengan basis investor domestik yang luas. Artinya, masuk ke pasar obligasi China dapat membuka akses terhadap sumber likuiditas yang belum tergarap secara optimal.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan tujuan utama penerbitan global bond di pasar China tersebut bukan hanya untuk mencari sumber pembiayaan baru, melainkan juga melakukan diversifikasi basis investor dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar dolar AS.
"Ini diversifikasi sumber pendanaan kita. Sebelumnya kan lebih banyak global bond, dolar. Sekarang kita diversifikasi ke Jepang, Australia, dan China," terang Purbaya.
Beberapa waktu lalu, pemerintah sukses menggelar penerbitan surat utang Panda Bond. Pada akhir Juli lalu, pemerintah melakukan penerbitan Panda Bond dalam mata uang yuan China (CNY) senilai CNY7 miliar atau sekitar Rp18,47 triliun (dengan asumsi 1 CNY sama dengan Rp2.638) atau sekitar US$1,03 miliar. Angka ini sedikit lebih besar dibanding dengan target pemerintah sebesar US$1 miliar.
Memperbanyak mata uang dalam pembiayaan dapat mengurangi konsentrasi risiko pada satu mata uang. Akan tetapi, diversifikasi mata uang bukan berarti risiko juga terdiversifikasi. Sebab, masalah utamanya terletak pada pelemahan rupiah, dan hampir 80% utang luar negeri Indonesia berada dalam denominasi mata uang asing.
Selain itu, semakin besar pembiayaan dalam yuan, semakin besar juga eksposur Indonesia terhadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap yuan, dan kondisi ekonomi juga kebijakan moneter China.
Kurs Rupiah Terhadap Yuan Lebih Jinak?
Sepanjang kuartal II-2026, sebenarnya rupiah tak cuma melemah terhadap dolar AS tetapi juga mata uang lainnya, termasuk yuan. Melansir data Bloomberg, rupiah melemah 6,44% terhadap yuan China (CNY) dan tergerus 6,3% terhadap yuan offshore (CNH).
Apabila melihat pada periode yang sama, depresiasi rupiah terhadap dolar AS justru lebih terbatas, yakni 4,96%.
Jika ditarik lebih jauh sejak awal tahun ini, maka pelemahan rupiah terhadap yuan China lebih dalam. Data Bloomberg menunjukkan depresiasi rupiah terhadap yuan tercatat 9,76%, dan terhadap dolar AS 'hanya' 6,44%.
Meski rupiah lebih tertekan terhadap yuan, namun secara kurs atau nilai tukar antara IDR/USD memang jauh lebih mahal daripada IDR/CNY.
Sehingga, meski secara tekanan kurs rupiah jauh lebih lemah terhadap yuan, namun secara nilai angkanya relatif lebih murah ketimbang harus membayar dengan acuan dolar AS.
Sebagai catatan, pada perdagangan Rabu (19/8/2026) nilai tukar rupiah terhadap yuan tercatat Rp2.645/CNY, sedangkan terhadap dolar AS jauh lebih mahal yakni Rp17.834/US$. Sementara, US$1 setara dengan CNY6,74.
Untuk ilustrasi, setiap utang rupiah terhadap yuan senilai US$1 miliar jika dibayarkan menggunakan kurs rupiah dengan yuan, maka nilai yang harus dibayarkan Rp17,72 triliun, masih lebih rendah daripada dengan nilai tukar dolar AS senilai Rp17,83 triliun.
Setidaknya, ada selisih sekitar Rp112,5 miliar dengan posisi kurs saat ini. Apalagi, jika diversikasi mata uang ini dibarengi dengan upaya pemerintah dalam melakukan natural hedge, misalnya dalam bentuk penerimaan ekspor, investasi, maupun perdagangan bilateral atau transaksi ekonomi lainnya yang menghasilkan yuan.
Dalam konteksi ini, pemerintah berupaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui pemanfaatan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT).
Purbaya menjelaskan, melalui mekanisme tersebut pembayaran dapat dilakukan menggunakan yuan dan rupiah, sehingga setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
--- dengan bantuan laporan Mis Fransiska Dewi
(dsp/aji)





























