Logo Bloomberg Technoz

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan suku bunga BI hari ini. Dalam konsensus yang dihimpun Bloomberg terhadap 35 ekonom dan analis menghasilkan median proyeksi BI Rate 5,75%. Estimasi terendah berada di 5,75%, sementara estimasi tertinggi mencapai 6%.

Dari survei tersebut, sebagian ekonom dan analis menilai BI masih perlu menaikkan suku bunga ke 6% untuk memberi tambahan daya tarik bagi aset rupiah, dan memperkuat insentif bagi investor untuk mempertahankan atau menambah eksposur terhadap aset domestik. 

Pandangan yang lebih hawkish ini datang bukan tanpa alasan, sejatinya pergerakan rupiah  pada kuartal kedua tahun ini telah melemah 4,96%.

Pelemahan itu menggenapi anjloknya rupiah sepanjang tahun sebesar 6,44%, dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian ekonom yang bernada hawkish menilai bahwa mempertahankan selisih suku bunga menjadi penting. Sebab, jika imbal hasil aset rupiah tak dianggap cukup menari daripada risiko nilai tukarnya, investor tentu akan lebih memilih untuk mengurangi eksposurnya terhadap rupiah. 

Selain itu, harga untuk menjaga rupiah juga membutuhkan ongkos mahal. Perkembangan utang luar negeri BI tercatat melonjak dari US$27,26 miliar pada Maret menjadi US$42,46 miliar pada Juni, bertambah US$15,2 miliar dalam tiga bulan. 

Kenaikan tersebut sebagian besar datang dari surat utang yang berkaitan dengan meningkatnya kewajiban BI kepada non-residen, sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas rupiah, seperti disebut BI. 

Karena itu, keputusan BI Rate hari ini menjadi penentu. Jika BI secara mengejutkan menaikkan BI Rate menjadi 6%, pasar kemungkinan akan membaca keputusan tersebut sebagai sinyal bahwa stabilitas rupiah masih jadi prioritas utama. 

Namun, jika BI mengambil langkah sesuai konsensus, pasar kemungkinan akan menghitung apakah BI masih punya cukup ruang untuk menggunakan instrumen lain, seperti intervensi di pasar valas, hingga kebijakan yang bersifat makroprudensial, untuk mendukung pertumbuhan yang ditargetkan pemerintah.

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai rupiah masih dibayang-bayangi potensi pelemahan, mencermati berbagai sentimen hingga wait and see pasar, dengan pelemahan terdekat menuju level Rp17.880/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.900/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Rabu 19 Agustus 2026 (Sumber: Bloomberg)

Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp17.950/US$ sebagai support terkuatnya.

Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level di range Rp17.800/US$ dan selanjutnya Rp17.770/US$.

Adapun rupiah sejatinya masih ada potensi penguatan optimistis lanjutan seiring sentimen pasar yang mulai membaik ke resistance potensialnya ke level Rp17.700/US$ biarpun saat ini masih terbatas peluangnya.

(riset)

No more pages