Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa menyatakan memutus hubungan perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut "di tengah eskalasi regional yang merusak perdamaian serta keamanan regional dan internasional."
Langkah tersebut diambil setelah UEA menyebut Iran menembakkan dua rudal balistik ke wilayahnya—serangan terkonfirmasi pertama dari Republik Islam tersebut ke negara Teluk itu sejak Mei. Kedua rudal tersebut menargetkan lalu lintas maritim, namun jatuh ke laut dan hanya satu yang mencapai perairan UEA, menurut Kementerian Pertahanan setempat. Teheran baru-baru ini juga meluncurkan serangan terhadap kapal-kapal yang terhubung dengan UEA. Esmail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, membantah bahwa pihak Teheran meluncurkan rudal ke arah UEA.
Harga minyak mentah Brent berada di atas US$91 per barel pada Selasa seiring pudar prospek pembukaan kembali Selat Hormuz secara cepat, padahal seperlima pasokan minyak dan gas dunia melintasi jalur tersebut sebelum perang pecah.
Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling rawan konflik. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kapal diserang di sepanjang rute yang menghubungkan Teluk Persia ke Teluk Oman dan Laut Arab. Arus lalu lintas kapal turun drastis dibandingkan tingkat pra-perang. Pada Selasa, pihak Inggris menyatakan sebuah kapal yang menuju keluar dari selat dihantam proyektil yang merusak ruang mesinnya dan memakan satu korban jiwa.
Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiasi utama Iran dengan AS, menyampaikan kepada para anggota parlemen pada Selasa bahwa Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum AS mencabut blokade pelabuhan, mencairkan aset yang dibekukan, menghapus sanksi minyak, dan menghentikan seluruh operasi militernya—sebagaimana yang disepakati pada Juni lalu.
Sementara itu, Trump menuntut Iran untuk menghentikan upaya penarikan tarif terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur perairan tersebut, sedangkan Teheran menyatakan akan mengelola lalu lintas maritim bersama dengan Oman. Trump, sembari menyinggung blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran, mengklaim bahwa selat tersebut "terbuka dan beroperasi," meskipun data pelayaran menunjukkan hal sebaliknya.
Trump juga mengklaim bahwa "semua ranjau air telah dimusnahkan atau diledakkan," sebuah pernyataan yang diragukan oleh para pejabat Eropa mengingat proses pembersihan ranjau memakan waktu yang sangat lama dan butuh ketelitian tinggi. Misi Eropa yang direncanakan sendiri hingga kini belum berjalan.
Pernyataan Trump pada Selasa menjadi contoh terbaru dari pesan-pesan simpang siur yang keluar dari pihak pimpinan AS terkait situasi perang.
Menantu Trump, Jared Kushner, yang aktif dalam upaya diplomasi, menyampaikan kepada Fox News pada Selasa bahwa percakapan dengan "berbagai elemen pemerintahan Iran" masih terus berlangsung.
"Memang tidak banyak rasa saling percaya antara Amerika dan Iran setelah bertahun-tahun tidak memiliki hubungan dan dialog ini," ujarnya. "Namun, kami sedang melakukan pembicaraan yang sangat positif dan aktif."
Namun menurut Trump, pembicaraan tersebut kini telah berakhir. Kendati demikian, kecil kemungkinan Iran akan menyerah.
"Rezim ini bersedia menanggung penderitaan besar, mereka bersedia membebankan penderitaan besar pada rakyatnya demi bertahan di tampuk kekuasaan," kata Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies, kepada Bloomberg Television. "Kita berada dalam apa yang saya sebut sebagai perang ekonomi yang menguras daya tahan untuk melihat siapa yang mampu bertahan lebih lama dan siapa yang dapat memaksa pihak lain memberikan konsesi."
Perang pecah pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran dan memicu konflik paralel yang menyeret sebagian besar wilayah Timur Tengah. Trump berulang kali menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah mencegah Republik Islam tersebut mendapatkan senjata nuklir, tuduhan yang ditepis oleh para pejabat Iran.
Trump pada Senin menyatakan bahwa AS masih memegang posisi tawar atas Iran dan mengulangi gagasannya untuk mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika. Sikapnya yang menegaskan bahwa AS memiliki kendali penuh atas selat tersebut bertolak belakang secara langsung dengan posisi para pejabat Iran.
Iran dan Oman sedang menegosiasikan kesepakatan tentang bagaimana Hormuz harus dikelola, tetapi AS tidak terlibat dalam diskusi tersebut. Dalam wawancara telepon dengan Fox News, Trump mengancam bahwa jika "Oman menghalangi, kami akan membom mereka habis-habisan," tanpa memberikan rincian lebih lanjut, mengulangi ancaman serupa yang pernah dilontarkannya pada Mei. Oman sendiri bukan sekutu militer resmi AS, namun bertindak sebagai mitra keamanan yang erat.
Trump berjuang menemukan jalan keluar dari perang yang telah melonjakkan harga bahan bakar dan kian tidak populer di AS, yang berisiko menggerus dukungan bagi Partai Republik pada pemilu sela November mendatang dengan terus membayang-bayangi pikiran para pemilih.
Trump dan para pejabatnya berjanji untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran guna memaksanya menyerah, tetapi belum jelas langkah apa yang sedang dipertimbangkan. Republik Islam tersebut sendiri telah bertahan dari sanksi selama berdekade-dekade.
Perang telah merusak sebagian besar kapasitas industri Iran, memangkas ekspor minyak mentahnya secara drastis, dan melambungkan inflasi tinggi. Ghalibaf mengakui bahwa warga Iran memiliki keluhan ekonomi yang sah, tetapi ia menegaskan bahwa mereka harus memprioritaskan menjaga persatuan nasional.
Jake Sullivan, yang menjabat sebagai penasihat keamanan nasional di bawah mantan Presiden Joe Biden, menilai Trump hanya memiliki dua pilihan buruk.
Pilihan pertama adalah terus melanjutkan perang dengan segala konsekuensi biaya ekonomi yang menyertainya. "Dan pilihan lainnya adalah menyepakati kompromi yang sangat, sangat buruk," ujarnya pada Selasa di Bloomberg Television.
"Dan Iran benar-benar hanya terus menaikkan 'harga' untuk kesepakatan itu seiring berjalannya minggu," tambah Sullivan, "dengan menambah tuntutan baru atas apa yang dipenuhi untuk membuka kembali Selat Hormuz."
(bbn)

























