“Secara keseluruhan, kuartal kedua tetap menantang dengan harga memori yang mencapai rekor tertinggi, persaingan yang sengit, dan permintaan yang lesu,” kata Presiden Xiaomi Lu Weibing kepada wartawan.
Walau harga memori masih terus naik, ia menambahkan bahwa kenaikan tersebut kemungkinan akan terjadi dengan laju yang lebih moderat pada paruh kedua tahun ini.
Xiaomi mencatatkan penurunan pengiriman smartphone terbesar di antara lima merek teratas dunia selama kuartal Juni, menurut firma riset Counterpoint.
Strategi perusahaan untuk menjangkau seluruh segmen permintaan smartphone — mulai dari ponsel premium dengan layar lipat hingga perangkat murah yang dijual di bawah US$100 — telah membuatnya sangat rentan terhadap kelangkaan memori.
Kinerja perusahaan kini bergantung pada penjualan ponsel baru dan kendaraan listrik (EV) mereka. Perpindahan fokus pendiri Lei Jun ke kendaraan listrik di pasar yang sangat kompetitif telah menjadi beban bagi laba bersih Xiaomi.
Dalam beberapa pekan terakhir, investor semakin khawatir terkait peluncuran dua kendaraan hybrid bensin dan listrik baru yang harganya di bawah ekspektasi pasar.
Perusahaan mengandalkan SUV SkyNomad untuk membangkitkan kembali antusiasme pada saat sebagian besar produsen mobil menghadapi penurunan penjualan di Tiongkok.
Xiaomi akan mulai menjual kendaraan listrik di luar negeri tahun depan, yang berpotensi mengembangkan bisnis ini menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih kuat dan menjadi ancaman bagi merek-merek Barat yang sudah mapan di pasar-pasar termasuk Eropa.
Namun, Xiaomi bakal menghadapi sejumlah tantangan dalam ekspansinya, termasuk tarif, pengawasan regulasi, dan standar keselamatan yang lebih ketat.
Sementara itu Steven Tseng dan Sean Chen dari Bloomberg Intelligence, menilai bahwa penurunan penjualan Xiaomi sekitar 5% pada kuartal kedua secara yoy sebab lemahnya bisnis ponsel dan Internet of Things (IoT) terus-menerus mengimbangi pertumbuhan bisnis EV.
“Penjualan smartphone mungkin turun sekitar 9%—penurunan yang lebih ringan dibandingkan anjloknya pengiriman sebesar 26%—karena kenaikan harga jual rata-rata meningkatkan komposisi produk,” jelas keduanya.
Pada bagian lain IoT mungkin tetap lesu, dengan pendapatan tertekan akibat berkurangnya subsidi dan permintaan konsumen yang lesu.
“Untuk bisnis EV cerdas dan inisiatif baru diperkirakan telah pulih dengan pertumbuhan sekitar 20% seiring meningkatnya pengiriman SU7 setelah transisi model pada kuartal sebelumnya. Namun, margin kotor secara keseluruhan kemungkinan menyusut, terbebani oleh kenaikan biaya memori pada ponsel pintar dan persaingan harga kendaraan listrik yang semakin ketat, sehingga menekan profitabilitas.”
(bbn)





























