Temuan ini menegaskan perubahan yang menjanjikan keuntungan bagi perusahaan pengguna AI dan gangguan bagi pekerja di berbagai sektor pasar tenaga kerja. Survei ini melibatkan 1.200 perusahaan pada bulan Juli.
Lowongan pekerjaan online menunjukkan bahwa AI menciptakan apa yang disebut ‘two-speed economy’, di mana perusahaan merekrut pekerja senior yang memiliki keterampilan AI sambil melakukan pemangkasan di bidang lain karena biaya tenaga kerja yang tinggi terus membebani.
Perekrutan untuk posisi yang terkait dengan AI, seperti pengembang software atau konsultan, telah merosot sejak 2022, dan pandangan bahwa AI pada akhirnya akan mengurangi jumlah lapangan kerja kini menjadi pandangan umum di kalangan CEO.
Analisis yang dilakukan oleh staf Bank of England juga menunjukkan bahwa perusahaan yang menggunakan AI menjadi lebih produktif, tetapi peningkatan tersebut terjadi dengan mengorbankan lapangan kerja.
Baca Juga: Otoritas Inggris Sebut AI Bisa Buat Pengangguran Naik
Perdana Menteri Inggris yang baru Andy Burnham telah mengambil pendekatan yang lebih keras terhadap AI dalam beberapa minggu pertama masa jabatannya, terutama dalam peringatannya mengenai dampak terhadap lapangan kerja dan kaum muda.
AI juga menjadi perhatian para pejabat di Bank of England, dengan Gubernur Andrew Bailey menyoroti tantangan dalam beralih dari sekadar mengadopsi teknologi tersebut ke memanfaatkannya sebagai katalis produktivitas.
Walau AI berpotensi mengangkat Inggris keluar dari kemandekan pertumbuhannya, dampaknya terhadap produktivitas mungkin akan mengikuti kurva J karena perusahaan membutuhkan waktu untuk mempelajari cara menggunakannya.
Selain merekrut tenaga kerja dengan keahlian AI, perusahaan-perusahaan yang disurvei oleh Lloyds menyatakan bahwa mereka juga tengah memperkenalkan atau memperluas program pelatihan bagi staf yang sudah ada.
Dua pertiga perusahaan dengan omzet di atas £10 juta atau US$13,6 juta menyatakan bahwa tenaga kerja mereka saat ini memiliki keahlian AI yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan bisnis, dibandingkan dengan hanya lebih dari setengah perusahaan secara keseluruhan.
Lebih dari 70% perusahaan besar juga menyatakan bahwa mereka berencana meningkatkan investasi dalam teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas.
(bbn)































