"Proses berulang mendinginkan lalu mencairkan, kemudian menguapkan dan mengompresi ini memakan biaya energi yang sangat mahal atau double cost," ujar Sugianto.
Skema Pasar
Selain itu, skema pasar sasaran dan kesiapan infrastruktur untuk CNG berbeda mendasar dari LNG.
CNG pada umumnya diperuntukkan bagi konsumsi lokal skala kecil hingga menengah seperti kendaraan operasional, sektor UMKM, atau industri dekat jaringan pipa.
Mengalokasikan pasokan gas di kilang LNG untuk CNG dinilai memicu kendala keterbatasan tabung distribusi bertekanan serta belum tersedianya standar infrastruktur jaringan penampung yang memadai di titik akhir.
“Akibatnya, nilai keekonomian proyek menjadi rendah dan biaya investasi fasilitas CNG akan sulit untuk tertutupi,” tegas Sugianto.
Di sisi lain, Sugianto mengatakan harga gas LNG untuk pasar domestik saat ini dinilai sangat dinamis dan bersaing ketat dengan harga pasar ekspor maupun spot.
Sugianto mengungkapkan bahwa harga gas umpan (feed gas) dari produsen hulu ke kilang DSLNG menggunakan formula yang mengacu pada Japan Crude Cocktails (JCC).
"Jadi jika harga minyak naik, harga feed gas dan LNG ikut naik," kata Sugianto.
Di pasar internasional, sebagian besar kontrak LNG jangka panjang di kawasan Asia Pasifik dipatok (indexed) menggunakan formula rasio persentase (slope) terhadap harga minyak mentah.
Ketika dinamika geopolitik atau pembatasan produksi membuat harga minyak global naik, biaya akuisisi gas umpan di tingkat hulu secara otomatis mengalami penyesuaian naik.
Hal ini secara tidak langsung menetapkan batas bawah (price floor) biaya produksi LNG bagi kilang pengolahan LNG seperti milik Donggi Senoro.
Adapun, sepanjang tahun ini, kenaikan harga minyak dan tingginya permintaan regional mendorong harga spot LNG Asia berfluktuasi tinggi hingga menembus kisaran US$20 hingga US$21,2 per MMBtu (million british thermal units).
Di dalam negeri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan akan terus mengejar target uji coba penggunaan CNG tabung 3 kilogram (kg) atau CNG Merah Putih agar dapat menekan impor LPG.
Dalam pernyataan terbaru, Bahlil mengungkap uji coba CNG 3 kg di masyarakat bakal dilakukan pada pertengahan Agustus 2026.
“Uji coba nanti minggu depan. Kita cek dahulu ya,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (11/8/2026).
Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman memastikan subsidi yang dibutuhkan CNG 3 kg bakal lebih rendah sekitar 30%—40% dibandingkan dengan subsidi yang dibutuhkan Gas Melon.
Akan tetapi, Laode masih belum dapat mengungkapkan potensi penghematan yang didapatkan dari pemanfaatan CNG 3 kg.
“Itu disubsidi, tetapi subsidinya menghemat 30-40%. Artinya subsidinya masih lebih rendah dari subsidi LPG,” tegas Laode.
Sebelum itu, Bahlil juga pernah mengatakan pengembangan proyek tabung CNG Merah Putih berukuran 3 kg kini memasuki pengujian akhir yaitu uji tembak.
“Menurut informasi yang saya terima tinggal uji tembak saja yang belum, karena itu kan diuji tembak dengan pembakaran 850 [derajat celcius] panasnya itu. Itu sudah tinggal uji tembak saja,” ungkap Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (3/8/2026).
Uji tembak tersebut, lanjut dia, akan dilakukan di China dan Indonesia. Adapun, uji tembak di Indonesia akan dilakukan secepatnya di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
“Dua-duanya dilakukan [di China dan Indonesia]. Jadi, kami tembak juga,” kata Bahlil.
Dia berharap pada Agustus atau bulan ini pemerintah sudah bisa melakukan perkenalan CNG 3 kg kepada masyarakat.
Pada kesempatan terpisah sebelumnya, Bahlil juga mengungkapkan proyek CNG Merah Putih 3 kg rencananya akan digarap melalui kerja sama dengan BUMN pertahanan, PT Pindad (Persero).
Meski demikian, Bahlil menjelaskan proyek tersebut saat ini masih dalam tahap pengujian di China sebelum bisa dilanjutkan ke tahap realisasi di dalam negeri.
“Kita akan melakukan [kerja sama] dengan Pindad nanti, tetapi masih cek dahulu di sana [China]. Kalau sudah selesai, baru kita lakukan tindakan lebih lanjut,” ujar Bahlil kepada awak media usai menghadiri agenda Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026, Selasa (21/7/2026).
Di sisi lain, Laode sempat menyampaikan tengah bersiap menggelar uji coba penggunaan tabung CNG ukuran 3 kg di Jawa Barat, sebagai salah satu lokasi pelaksanaannya.
"Uji cobanya di kota-kota besar dahulu ya, mungkin salah satunya adalah di Jawa Barat," ujar Laode dalam kesempatan yang sama.
(smr/wdh)





























