Pandangan yang lebih hawkish ini datang bukan tanpa alasan, sejatinya pergerakan rupiah pada kuartal kedua tahun ini telah melemah 4,96%. Pelemahan itu menggenapi anjloknya rupiah sepanjang tahun sebesar 6,44%, dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.
Sehingga, BI dirasa masih perlu menaikkan suku bunga untuk memberi tambahan daya tarik bagi aset rupiah, dan memperkuat insentif bagi investor untuk mempertahankan atau menambah eksposur terhadap aset domestik.
Terlebih, pudarnya prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) kembali mengerek harga minyak ke US$91/barel, dan menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi global yang berpotensi mengerek suku bunga The Fed.
Sedangkan, kelompok ekonom dan analis yang memperkirakan kecenderungan BI menahan BI Rate di 5,75% sepertinya melihat bahwa BI sudah melakukan pengetatan yang cukup agresif.
BI sebelumnya menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei menjadi 5,25%, kemudian menaikkan 25 bps pada Juni menjadi 5,5%, dan kembali menaikkan 25% bps tambahan di bulan yang sama hingga BI Rate berada di 5,75%.
Artinya, BI sudah mengambil langkah hawkish dengan menambah 100 bps dalam waktu yang relatif singkat. Dalam kondisi sekarang, sepertinya mempertahankan suku bunga memberi kesempatan bagi BI untuk mengevaluasi dampak pengetatan terhadap rupiah, inflasi, permintaan domestik, serta arus modal sebelum kembali mengambil keputusan.
Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson, menyebut inflasi berada dalam kisaran target BI di rentang 1,5%-3,5%, begitu juga dengan pergerakan nilai tukar.
"Rupiah secara umum stabil, bertahan dalam kisaran yang terbentuk sejak Juni," kata Henderson dalam catatannya.
Rapat pada pekan ini merupakan RDG perdana Destry Damayanti menggantikan Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI. Sebelumnya, Destry mengatakan bahwa BI akan tetap menjaga keseimbangan antara rupiah dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi sambil tetap mempertahankan suku bunga, dengan memperkuat penggunaan instrumen makroprudensial.
Rupiah Masih Defensif
Sepanjang Agustus, pergerakan rupiah cukup stabil dengan penguatan 0,87%, month-to-date (mtd) hingga Selasa (18/8/2026).
Namun, jika dibandingkan dengan tren penguatan yang terjadi pada mata uang kawasan, penguatan rupiah relatif lebih rendah daripada mata uang lainnya. Won Korea Selatan, misalnya, menguat 1,9%, dan dolar Taiwan 1,45%.
Tensi perang di Timur Tengah yang mereda pada dua pekan pertama bulan ini membawa angin segar bagi mata uang Asia. Namun, pekan ini, prospek kesepakatan kembali memudar.
Sebagai catatan, setelah libur panjang Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI), rupiah membuka perdagangan Selasa (18/8/2026) dengan pelemahan 0,18% ke Rp17.857/US$. Hari ini, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya dan berada di kisaran Rp17.850-Rp17.950/US$.
(dsp/aji)





























